Opini
Moderasi Beragama: Menemukan Titik Tengah Melalui Lensa Hadis
Seringkali, agama disalahpahami sebagai kumpulan aturan yang kaku atau, di sisi lain, dianggap terlalu cair hingga kehilangan substansi.
Oleh: Dr Firdaus, M.Ag
Dosen Prodi Ilmu Hadis Fal. Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah arus polarisasi global dan kemudahan akses informasi, isu moderasi beragama menjadi semakin krusial.
Seringkali, agama disalahpahami sebagai kumpulan aturan yang kaku atau, di sisi lain, dianggap terlalu cair hingga kehilangan substansi.
Di sinilah konsep Wasathiyah (moderat) berperan sebagai kompas moral.
Secara teologis, moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama atau bersikap acuh tak acuh.
Moderasi adalah posisi tegak lurus di antara dua kutub ekstrem: ekstremisme (ghuluw) dan liberalisme yang kebablasan (tafrith).
Landasan Hadis: Agama Itu Mudah
Nabi Muhammad SAW secara konsisten mengajarkan umatnya untuk mengambil jalan tengah.
Salah satu hadis yang paling fundamental dalam konteks ini seperti hadi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ
Transliterasi
Innad-dīna yusrun, wa lan yushāddad-dīna ahadun illā ghalabahu, fa saddidū wa qāribū wa abshirū, wasta’īnū bil-ghadwati war-rawhati wa shay’in minad-duljah.
Artinya: "Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama melainkan ia akan dikalahkannya (menjadi lelah/putus asa). Maka bertindaklah lurus (sesuai sunnah), mendekatlah (pada kesempurnaan), dan berikanlah kabar gembira. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan beribadah di waktu pagi, sore, dan sebagian waktu malam." (HR. Bukhari).
Hadis ini bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan prinsip operasional dalam beragama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-02-Dr-Firdaus-MAg-Dosen-Prodi-Ilmu-Hadis.jpg)