Opini
Jangan Asal Tutup Prodi, Green Job Butuh Lulusan Multidisiplin
Daripada menutup, prodi yang kurang relevan sebaiknya direvitalisasi melalui penguatan kurikulum dan pendekatan multidisiplin.
Di Jerman dan Denmark, prodi humaniora tetap hidup karena diwajibkan mengambil materi keberlanjutan.
Lulusannya menjadi perencana kota hijau, konsultan CSR, atau analis dampak lingkungan.
Bayangkan jika semua prodi ilmu sosial ditutup.
Siapa merancang pajak karbon yang adil?
Siapa meneliti persepsi masyarakat terhadap pembangkit listrik tenaga sampah?
Green job tidak optimal jika hanya fokus pada mesin, melupakan manusia.
Ilustrasi: Prodi Non-Teknis yang Berkontribusi
Perhatikan skenario ini.
Prodi Antropologi yang nyaris ditutup diberi mata kuliah "Etnografi Perubahan Iklim".
Lulusannya menjadi mediator konflik di konservasi mangrove.
Prodi Sastra Inggris dengan konsentrasi "Komunikasi Lingkungan" melahirkan penulis laporan keberlanjutan.
Prodi Filsafat dengan peminatan "Etika Lingkungan" melahirkan lulusan yang direkrut think tank kebijakan iklim.
Bayangkan keluhan manajer SDM LSM: "Kami kesulitan mencari lulusan yang bisa menulis proposal konservasi sekaligus memahami perilaku masyarakat pesisir.
Sarjana biologi saja tidak cukup." Green job haus akan lulusan lintas disiplin.
Prodi yang nyaris ditutup bisa diselamatkan dengan revitalisasi kurikulum hijau, bukan dimatikan.
| Di Balik Narasi Kemajuan: Membaca Retakan dalam Praktik Pendidikan Kontemporer |
|
|---|
| Menagih Janji Ki Hadjar Dewantara |
|
|---|
| Moderasi Beragama: Menemukan Titik Tengah Melalui Lensa Hadis |
|
|---|
| PP TUNAS Menguatkan Literasi Digital? |
|
|---|
| Pendidikan Tiga Pilar Kearifan Lokal: Meneguhkan Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/STIE-YPUP-Makassar-03052026.jpg)