Opini
Jangan Asal Tutup Prodi, Green Job Butuh Lulusan Multidisiplin
Daripada menutup, prodi yang kurang relevan sebaiknya direvitalisasi melalui penguatan kurikulum dan pendekatan multidisiplin.
Pemerintah butuh lulusan hukum yang menguasai perizinan karbon.
Tanpa keahlian lintas disiplin, proyek hijau bisa gagal.
Studi ILO (2022) menunjukkan lebih dari 40 persen perusahaan di sektor ekonomi hijau kesulitan merekrut tenaga kerja dengan kombinasi keterampilan teknis dan non-teknis.
Banyak lowongan green job butuh komunikasi, negosiasi, dan kebijakan yang tidak diajarkan di prodi teknik murni.
Bukankah ini alarm?
Menutup prodi non-teknis sama dengan memutus pasokan talenta untuk pekerjaan hijau.
Lalu, siapa yang menyuarakan keadilan iklim jika prodi sosial dan humaniora dibungkam?
Memutus Rantai Kekeliruan Berpikir
Banyak pihak beranggapan prodi yang lulusannya tak terserap di industri konvensional otomatis tidak relevan.
Padahal relevansi tak hanya diukur dari penyerapan di sektor lama.
Permintaan lulusan humaniora di green job meningkat.
Asumsi keliru lain: semua prodi harus menghasilkan lulusan siap pakai secara teknis.
Green job butuh pemikir kritis, komunikator ulung, perancang kebijakan, kompetensi yang diasah di filsafat, sastra, sosiologi, dan hukum.
Siapa yang merumuskan kebijakan transisi energi berkeadilan jika hanya insinyur yang bicara?
Ada yang menganggap prodi kecil tidak layak dipertahankan.
| Di Balik Narasi Kemajuan: Membaca Retakan dalam Praktik Pendidikan Kontemporer |
|
|---|
| Menagih Janji Ki Hadjar Dewantara |
|
|---|
| Moderasi Beragama: Menemukan Titik Tengah Melalui Lensa Hadis |
|
|---|
| PP TUNAS Menguatkan Literasi Digital? |
|
|---|
| Pendidikan Tiga Pilar Kearifan Lokal: Meneguhkan Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/STIE-YPUP-Makassar-03052026.jpg)