Opini Rahmat Muhammad
Pendidikan Yang Mendidik Anak Didik
Lebih dari satu abad sejak ia mendirikan Taman Siswa, cita-cita itu masih terasa sebagai pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Tugas mereka dikerjakan dengan bantuan AI, esai ditulis oleh mesin, soal dijawab dalam hitungan detik.
Guru-guru kelabakan, dan sekolah belum punya panduan yang jelas.
Ini adalah tantangan yang belum pernah dihadapi generasi pendidik sebelumnya.
Persoalannya bukan soal melarang atau membolehkan teknologi, melainkan soal kesiapan.
Kesiapan guru untuk mendampingi, kesiapan kurikulum untuk relevan, dan kesiapan kita sebagai masyarakat untuk mendefinisikan ulang “apa sebenarnya tujuan pendidikan di era ini?”.
Jika tujuannya hanya mencetak pekerja yang bisa menghafal dan mengerjakan soal, maka AI memang mengancam.
Tetapi jika tujuannya membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, berempati, dan berkolaborasi, maka pendidikan kita justru harus segera berbenah untuk menjadi lebih dari yang bisa dilakukan mesin.
Hardiknas tahun ini akan kita rayakan dengan banyak bunga dan berbagai pidato yang mengesankan, sementara guru-guru honorer di berbagai daerah masih berjuang mendapatkan penghasilan yang bermartabat.
Profesi guru semestinya menjadi pilihan terbaik, bukan pilihan terakhir.
Ketika kualitas orang yang masuk ke profesi keguruan terus menurun karena kesejahteraannya tak menjanjikan, siapa yang akan kita percayakan untuk mendidik generasi berikutnya?
Mutu pendidikan kita bukanlah soal nasib, tetapi soal pilihan, ya ini adalah pilihan politik, pilihan anggaran, dan pilihan prioritas.
Negara-negara yang berhasil membangun pendidikan berkualitas, seperti Finlandia atau Korea Selatan, melakukannya bukan karena keberuntungan, melainkan karena komitmen panjang yang konsisten.
Di Hari Pendidikan Nasional ini, izinkan saya menuliskan harapan yang sederhana demi Mendidik Anak Didik “semoga kita tidak berhenti hanya pada perayaan.
Semoga angka-angka dalam laporan pendidikan tidak hanya dibaca oleh para birokrat saat upacara tetapi juga menggerakkan kebijakan yang nyata.
Dan semoga anak didik kita di mana pun mereka berada punya kesempatan yang sama untuk tumbuh, berpikir, dan bermimpi” sebab itulah sejak dulu, hakikat pendidikan yang sesungguhnya, Insya Allah harapan ini terwujud, semoga.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Rahmat-Muhammad-Ketua-Prodi-S3-Sosiologi-Unhas-54.jpg)