Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Rahmat Muhammad

Lebaran dan Ilusi Kemenangan di Tengah Konflik

Bagi mereka, tidak ada ruang untuk merayakan kemenangan melainkan hanyalah upaya bertahan hidup dari hari ke hari.

Tayang:
Rahmat Muhammad
OPINI - Rahmat Muhammad Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas 

Oleh: Rahmat Muhammad
Dosen Sosiologi Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Setiap tahun, Idul Fitri selalu dimaknai sebagai hari kemenangan.

Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah di Bulan Suci Ramadhan, umat Islam merayakan keberhasilannya dalam menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu.

Takbir berkumandang dari masjid ke mesjid, keluarga berkumpul, dan tradisi saling memaafkan menjadi simbol kembalinya manusia pada fitrah.

Namun, di tengah suasana yang penuh sukacita ini, muncul sebuah pertanyaan reflektif “kemenangan seperti apa yang sebenarnya kita rayakan?”

Di saat sebagian masyarakat menikmati hidangan lebaran dan kehangatan berkumpul Bersama keluarga, realitas di belahan dunia lain justru menunjukkan wajah yang kontras.

Konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat terus mengalami eskalasi.

Serangan militer, ketegangan geopolitik, dan ancaman perang yang meluas tidak hanya berdampak pada negara-negara tersebut, tetapi juga mengguncang stabilitas global.

Di tengah situasi ini, ribuan warga sipil harus menghadapi banyak kehilangan, seperti rumah yang hancur, keluarga yang tercerai-berai, bahkan nyawa yang melayang.

Bagi mereka, tidak ada ruang untuk merayakan kemenangan melainkan hanyalah upaya bertahan hidup dari hari ke hari.

Fenomena ini memperlihatkan adanya jurang antara makna simbolik kemenangan dalam konteks religius dengan realitas sosial global.

Dalam perspektif sosiologi, kemenangan yang dirayakan dalam Idul Fitri sering kali bersifat individual dan spiritual.

Ia diukur dari keberhasilan personal dalam menjalankan ibadah.

Namun, jika merujuk pada gagasan solidaritas sosial yang dikemukakan oleh Émile Durkheim, agama sejatinya bukan hanya soal relasi individu dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai kolektif dibangun untuk menciptakan keterikatan sosial yang lebih luas.

Di sinilah letak problematisnya, ketika kemenangan direduksi menjadi pengalaman personal, maka dimensi sosial dari ibadah berpotensi terabaikan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved