Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Rahmat Muhammad

Pendidikan Yang Mendidik Anak Didik

Lebih dari satu abad sejak ia mendirikan Taman Siswa, cita-cita itu masih terasa sebagai pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Tayang:
Ist
OPINI - Rahmat Muhammad Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas 

Oleh: Rahmat Muhammad
Dosen Sosiologi Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Setiap tanggal 2 Mei, kita kembali diingatkan pada nama besar Ki Hadjar Dewantara, ia adalah sosok yang meyakini bahwa pendidikan bukan sekadar urusan kelas dan ujian, melainkan soal membangun manusia yang merdeka.

Lebih dari satu abad sejak ia mendirikan Taman Siswa, cita-cita itu masih terasa sebagai pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 ini seharusnya kita jadikan momen bukan hanya untuk seremoni belaka, tetapi untuk melihat jujur dan mendalam “di mana sesungguhnya pendidikan kita berdiri hari ini?”

Sebagai dosen Sosiologi, saya selalu tertarik pada satu pertanyaan sederhana tapi kadang mengganggu, yaitu siapa sebenarnya yang paling diuntungkan oleh sistem pendidikan kita sekarang?

Data berulang kali menjawab dengan gamblang “mereka yang tinggal di kota besar, yang punya akses internet stabil, yang orang tuanya berpendidikan tinggi dan punya penghasilan yang besar”

Sementara itu, di pelosok Sulawesi, Papua, Kalimantan, Sumatera bahkan di Jawa sekalipun serta ratusan desa lainnya, anak didik masih berjalan berkilo-kilo meter untuk mencapai sekolah.

Guru honorer mengajar dengan gaji yang tak cukup untuk makan layak.

Gedung sekolah yang retak dibiarkan bertahun-tahun.

Ketimpangan ini bukan berita baru bagi kita, tetapi ini juga bukan berita lama yang sudah selesai.

Kalau kita membaca laporan BPS dan berbagai hasil riset tentang pendidikan, hasilnya menunjukkan bahwa kesenjangan kualitas belajar antara sekolah di perkotaan dan pedesaan masih sangat lebar.

Anak yang lahir di keluarga miskin, hampir pasti akan mengalami pendidikan yang lebih buruk dan lingkaran ini terus berputar dari generasi ke generasi.

Inilah yang Bourdieu katakan sebagai reproduksi sosial, sekolah hari ini alih-alih menjadi tangga naik, justru kerap menjadi cermin yang memperbesar ketimpangan yang sudah ada.

Di sisi lain, dunia bergerak sangat cepat.

Kecerdasan buatan (AI) hari ini bukan lagi fiksi ilmiah,  AI hadir di genggaman tangan siswa kita.

Tugas mereka dikerjakan dengan bantuan AI, esai ditulis oleh mesin, soal dijawab dalam hitungan detik.

Guru-guru kelabakan, dan sekolah belum punya panduan yang jelas.

Ini adalah tantangan yang belum pernah dihadapi generasi pendidik sebelumnya.

Persoalannya bukan soal melarang atau membolehkan teknologi, melainkan soal kesiapan.

Kesiapan guru untuk mendampingi, kesiapan kurikulum untuk relevan, dan kesiapan kita sebagai masyarakat untuk mendefinisikan ulang “apa sebenarnya tujuan pendidikan di era ini?”.

Jika tujuannya hanya mencetak pekerja yang bisa menghafal dan mengerjakan soal, maka AI memang mengancam.

Tetapi jika tujuannya membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, berempati, dan berkolaborasi, maka pendidikan kita justru harus segera berbenah untuk menjadi lebih dari yang bisa dilakukan mesin.

Hardiknas tahun ini akan kita rayakan dengan banyak bunga dan berbagai pidato yang mengesankan, sementara guru-guru honorer di berbagai daerah masih berjuang mendapatkan penghasilan yang bermartabat.

Profesi guru semestinya menjadi pilihan terbaik, bukan pilihan terakhir.

Ketika kualitas orang yang masuk ke profesi keguruan terus menurun karena kesejahteraannya tak menjanjikan, siapa yang akan kita percayakan untuk mendidik generasi berikutnya?

Mutu pendidikan kita bukanlah soal nasib, tetapi soal pilihan, ya ini adalah pilihan politik, pilihan anggaran, dan pilihan prioritas.

Negara-negara yang berhasil membangun pendidikan berkualitas, seperti Finlandia atau Korea Selatan, melakukannya bukan karena keberuntungan, melainkan karena komitmen panjang yang konsisten.

Di Hari Pendidikan Nasional ini, izinkan saya menuliskan harapan yang sederhana demi Mendidik Anak Didik “semoga kita tidak berhenti hanya pada perayaan.

Semoga angka-angka dalam laporan pendidikan tidak hanya dibaca oleh para birokrat saat upacara tetapi juga menggerakkan kebijakan yang nyata.

Dan semoga anak didik kita di mana pun mereka berada punya kesempatan yang sama untuk tumbuh, berpikir, dan bermimpi” sebab itulah sejak dulu, hakikat pendidikan yang sesungguhnya, Insya Allah harapan ini terwujud, semoga.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved