Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Potongan Video Memanipulasi Publik dan Mengancam Demokrasi

Potongan ceramah Jusuf Kalla (JK) di Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi contoh konkret bagaimana

Tayang:
Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
Dosen Sastra Inggris FBS UNM, Andi Muhammad Irawan 

Andi Muhammad Irawan

Dosen Sastra Inggris FBS UNM

Doktor Ilmu Linguistik dan Studi-studi Sosial Alumnus University of New England, Australia

DI era media sosial, informasi menyebar jauh lebih cepat melampaui kemampuan publik untuk memverifikasinya.

Dalam hitungan menit, sebuah potongan video dapat menjelma menjadi “kebenaran” yang diyakini banyak orang.

Polemik terkait potongan ceramah Jusuf Kalla (JK) di Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi contoh konkret bagaimana fragmen informasi dapat membentuk opini publik secara masif.

Video yang telah di-edit oleh pihak tertentu itu memunculkan kesan seolah-olah terdapat pernyataan yang menyinggung agama, sehingga memantik reaksi luas, perdebatan tajam, bahkan tudingan serius.

Fenomena ini tidak bisa dipahami hanya sebagai kesalahpahaman biasa.

Ia merupakan gejala yang lebih dalam tentang bagaimana wacana diproduksi, dimodifikasi, dan disebarkan dalam ruang digital.

Baca juga: Pimpinan Ormas Islam dan Kristen Terus Berdatangan Temui Jusuf Kalla: Setop Polemik Penistaan Agama

Untuk itu, pendekatan analisis wacana kritis menjadi penting, karena membantu kita melihat bahwa setiap narasi yang beredar tidak pernah sepenuhnya netral, melainkan selalu terkait dengan kepentingan, ideologi, dan tujuan tertentu.

Pertama, produksi wacana selalu erat kaitannya dengan kepentingan.

Dalam analisis wacana kritis, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga alat kekuasaan.

Narasi yang beredar di ruang publik sering kali merupakan hasil konstruksi yang disengaja untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam konteks potongan video ini, proses penyuntingan bukanlah tindakan acak, melainkan bagian dari strategi komunikasi.

Dengan memilih bagian tertentu dari ceramah dan menghilangkan bagian lain, produsen konten dapat membentuk persepsi publik sesuai dengan kepentingannya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Kisah Keringat

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved