Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Indonesia Terlalu Besar untuk Hanya Satu Kartini

Nama Kartini begitu kuat tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia sebagai simbol perjuangan perempuan.

Tayang:
Editor: Ansar
DOK PRIBADI
Andi Zulfikar Darussalam, Dosen di UIN Alauddin Makassar 

Dari lingkungan inilah Aisyah tumbuh sebagai perempuan yang tidak hanya memahami pemerintahan, tetapi juga memiliki kecintaan besar terhadap ilmu pengetahuan dan sastra.

Salah satu kontribusi terbesarnya adalah mendirikan sekolah bagi rakyat yang terbuka untuk laki-laki dan perempuan dalam satu ruang belajar.

Pada masa itu, langkah tersebut sangat revolusioner. Pendidikan bagi perempuan masih dianggap tidak penting, bahkan sering dipandang bertentangan dengan adat.

Namun Aisyah justru meyakini bahwa kemajuan negeri tidak mungkin dicapai tanpa pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat, termasuk perempuan.

Ia tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi mewujudkannya melalui kebijakan konkret.

Sekolah yang ia dirikan memang masih sederhana dengan kurikulum membaca, menulis, dan berhitung, tetapi pada zamannya hal itu merupakan lompatan sosial yang luar biasa.

Ia berhasil mempraktikkan kesetaraan hak pendidikan jauh sebelum Kartini lahir .

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Kartini dan Aisyah.

Kartini memperjuangkan perempuan melalui wacana dan kesadaran intelektual. Aisyah memperjuangkannya melalui institusi dan kebijakan.

Keduanya sama penting, tetapi sejarah nasional justru lebih banyak memberi panggung kepada satu nama, sementara yang lain nyaris hilang dari ingatan publik.

Tidak hanya di bidang pendidikan, Aisyah juga memiliki jasa besar dalam penyelamatan salah satu karya sastra terbesar dunia, yaitu La Galigo.

Naskah ini merupakan epik panjang sastra Bugis yang bahkan sering disebut sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia, melebihi epik Mahabharata.

Pada masa kolonial, naskah-naskah La Galigo tersebar dan terancam hilang.

Melalui kekuasaannya sebagai ratu, Aisyah bersama ibunya berhasil mengumpulkan naskah-naskah tersebut dari berbagai kerajaan seperti Gowa, Tallo, dan Bone.

Mereka bekerja selama puluhan tahun untuk menyelamatkan manuskrip berharga itu.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved