Opini
Menjadi Manusia Pancasila
Tugas utama BPUPKI adalah merumuskan dasar negara yang akan menjadi fondasi bagi Indonesia setelah kemerdekaan.
Dalam konteks pemerintahan, sila ke-4 menjadi dasar bagi pelaksanaan sistem demokrasi Pancasila, yaitu demokrasi yang mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Berbeda dengan demokrasi liberal yang menekankan suara mayoritas, demokrasi Pancasila berusaha mencapai keputusan bersama melalui dialog dan kebijaksanaan.
Hal ini menunjukkan bahwa sila ke-4 bukan sekadar konsep politik, tetapi juga nilai moral yang menuntun perilaku masyarakat Indonesia dalam berinteraksi dan mengambil keputusan bersama.
Kelima, Ajaran Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, memiliki makna bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan perlakuan yang adil tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.
Keadilan sosial tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga mencakup keadilan dalam pendidikan, hukum, dan kesempatan kerja.
Intinya, sila ini menjadi pedoman agar kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat secara merata untuk menjunjung tinggi kesetaraan tanpa adanya perbedaan.
Setiap warga negara diberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh akses pendidikan yang baik serta kesehatan yang memadai yang harus difasilitasi oleh pemerintah.
Pemerintah harus bertanggung jawab untuk memberikan hak yang dimiliki oleh tiap- tiap warganya.
Selain itu dapat dilihat implementasinya dari seorang warga negara yang berhak mendapatkan upah minimum dari para bos ataupun manajernya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.
Oleh Karena itu, menjadi manusia Pancasila bukan sekadar menghafal lima sila, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dalam sikap, tindakan, dan cara berpikir kita sehari-hari.
Pancasila adalah pedoman moral dan arah kehidupan berbangsa yang seharusnya tercermin dalam diri setiap individu, terutama generasi muda.
Di era modern yang serba cepat ini, tantangan untuk menjadi manusia Pancasila semakin kompleks.
Arus globalisasi, perkembangan teknologi, hingga budaya instan seringkali membuat nilai-nilai luhur seperti gotong royong, toleransi, dan keadilan mulai terkikis.
Banyak orang lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan bersama.
Padahal, esensi dari Pancasila justru terletak pada keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta kepedulian terhadap sesama.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-10-14-Muhammad-Syafitra.jpg)