Opini
JK Bicara Fakta, Bukan Menyerang Agama
Di Poso dan Ambon, yang ia temui bukan orang-orang yang sedang duduk diam merenungi ajaran agama.
Di ruang kelas atau di kitab, maknanya mungkin jelas.
Tapi di tengah konflik, makna itu bisa bergeser jauh.
JK melihat itu langsung.
Ia tidak sedang berasumsi.
Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, apa yang terjadi di sana juga mirip dengan yang dibahas oleh René Girard tentang mimesis hasrat yang meniru.
Dalam konflik, kedua pihak sering kali tanpa sadar meniru pola yang sama: cara membenarkan diri, cara melihat lawan, bahkan cara menggunakan simbol-simbol agama.
Mereka merasa berbeda, tapi sebenarnya bergerak dengan logika yang mirip.
Dan di situlah konflik menjadi sulit dihentikan.
Maka, ketika JK mengatakan bahwa kedua pihak sama-sama melihat kematian dalam konflik sebagai sesuatu yang “bernilai”, itu bukan tuduhan teologis.
Itu adalah laporan sosiologis.
Ia sedang menjelaskan bagaimana orang berpikir di tengah situasi ekstrem, bukan bagaimana agama mengajarkan mereka untuk berpikir.
Sayangnya, banyak yang menangkapnya secara literal.
Seolah-olah JK sedang menyamakan ajaran agama, atau bahkan menyimpulkan sesuatu tentang Tuhan.
Padahal tidak ke sana arahnya.
Kita sering kali terlalu cepat menarik ucapan ke ranah yang lebih tinggi ke doktrin, ke iman padahal konteksnya masih di level perilaku manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-02-Yusran.jpg)