Opini
Menata Ulang Denyut Pasar Lokal Makassar
Lewat pasar, penguasa memantau pergerakan orang asing, mengumpulkan kabar dari pelaut, dan mengontrol harga.
Oleh: Muhammad Randhy Akbar
Pengajar di Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Ada satu benang merah yang terus berulang dalam sejarah tata ruang: pasar membentuk kota.
Sepanjang sejarah peradaban, pusat kekuasaan dan denyut ekonomi nyaris tidak pernah terpisah.
Jika kita melihat tata kota masa lampau, ada kecenderungan kuat di mana pasar menempel pada dinding benteng atau istana.
Di Eropa, alun-alun pasar tumbuh di bawah bayang-bayang kastil.
Di Timur Tengah, lorong-lorong bazaar bermuara langsung di gerbang benteng (citadel).
Hubungan ruang ini lahir dari sebuah kebutuhan timbal balik: penguasa butuh pasar sebagai instrumen kontrol dan pusat informasi, sementara pedagang butuh tembok penguasa untuk berlindung.
Makassar punya jejak serupa.
Pada masa kerajaan, pusat niaga sengaja ditempatkan dekat dengan benteng utama.
Lewat pasar, penguasa memantau pergerakan orang asing, mengumpulkan kabar dari pelaut, dan mengontrol harga.
Kehadiran pejabat kerajaan seperti Syahbandar di tengah pasar tidak cuma berurusan dengan pajak, tapi sebagai bentuk perlindungan.
Keadilan di ruang niaga menjadi cerminan langsung dari wibawa istana.
Tumbuh Organik dan Ironi Pembiaran
Seiring waktu, pasar di Makassar tumbuh dengan cara yang sangat organik.
Berbeda dengan mal yang lahir dari rancangan di atas meja dan hitungan modal besar, pasar lokal kita justru sering kali lahir dari kebutuhan dan gerakan pedagang kecil itu sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Randhy-Akbar.jpg)