Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Jangan Pinjam Nama Besar JK

Jusuf Kalla bercerita pengalaman tentang bagaimana upaya-upaya beliau dalam melakukan dan mencari resolusi konflik.

Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Attock Suharto saat bersama Jusuf Kalla. Attock Suharto adalah Peneliti dan Akademisi UIN Datokarama. 

Oleh: Dr. Attock Suharto

Peneliti dan Akademisi UIN Datokarama

TRIBUN-TIMUR.COM - Sebagai seorang peneliti yang pernah menjadikan pak JK sebagai obyek penelitian terkait perdamaian konflik Poso, Saya merasa terpanggil untuk ikut nimbrung pada fenomena yang menyeret pak JK terkait ceramahnya di masjid UGM sabam hari. 

Apalagi jika dicermati ceramah itu, maka beliau bercerita pengalaman tentang bagaimana upaya-upaya beliau dalam melakukan dan mencari resolusi konflik.

Ceramah itu, sebagian besar juga menjadi jawaban atas berbagai pertanyaan Saya saat mewawancara langsung pak JK di kediamannya, di Jalan Brawijaya V Jakarta Selatan.

Narasi ceramah terkait bunuh membunuh dalam konteks agama yang tidak dibenarkan di semua agama, baik muslim maupun kristen tidak akan masuk syurga, meskipun dalam perspektif muslim jihad adalah jalan menuju syurga dan perang salib juga demikian, pak JK berpandangan bahwa keduanya tidak akan masuk syurga.

Pandangan ini,menjadi landasan aksiomatik pak JK dalam mencoba menempuh jalan berliku perdamaian bagi konflik Poso dan Ambon, beliau akan selalu menjadikan konten itu sebagai bagian untuk menyadarkan kedua belah pihak, yang secara prinsipil pak JK sedang menggiring kedua kubu itu tercerahkan yang pada gilirannya memiliki kemauan untuk berdamai.

Oleh karenanya, apa yang dilakukan atau disampaikan dalam ceramah pak JK tidak dapat dimaknai sebagai penistaan agama, justru itu adalah jalan aksiologis untuk menanamkan kesadaran pada masing-masing diri dalam komunal yang bertikai di daerah konflik tersebut.

Meminjam Nama Besar JK

Saya berpandangan bahwa momentum ceramah JK tersebut telah dimanfaatkan, sedang dipolitisasi.

Para kelompok kepentingan yang mabok kekuasaan itu mencoba meminjam nama besar JK agar tetap dapat panggung di beranda politik nasional.

Pak JK memang bukan tokoh receh, beliau adalah tokoh papan atas yang memiliki karakteristik khas, beliau bukan hanya sekedar tokoh politik besar tetapi beliau juga adalah sumur pengetahuan bagi para akademisi untuk menjadikannya sebagai sumber penelitian ilmiah.

Bukan hanya saya, banyak insan-insan akademis yang telah menjadikan pak JK sebagai obyek kajian, objek penelitian baik pada saat menjabat sebagai wakil presiden ke 10 dan ke 12 maupun pada aktivitas-aktivitas politik, bisnis, organisasi dan kemanusiaan.

Pak JK telah memberikan warna tersendiri dalam dunia akademik, dimana peran-peran politik, sosial dan lainnya telah memenuhi kriteria untuk dijadikan rujukan ilmiah.

JK itu Juru Damai

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Tangguh Bertahan

 

Tangguh Bertahan

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved