Opini
JK Bicara Fakta, Bukan Menyerang Agama
Di Poso dan Ambon, yang ia temui bukan orang-orang yang sedang duduk diam merenungi ajaran agama.
Di titik inilah, ucapan JK seharusnya dibaca.
Ia sedang menggambarkan realitas, bukan merumuskan ajaran.
Sejarah mencatat, keberanian JK untuk melihat realitas secara apa adanya justru jadi kunci penting dalam proses damai.
Deklarasi Malino I untuk Poso dan Malino II untuk Ambon bukan lahir dari perdebatan teologis yang panjang.
Ia lahir dari pengakuan jujur: bahwa kedua pihak sama-sama merasa benar, sama-sama merasa berada di jalan yang suci, dan sama-sama terluka.
Kalau itu tidak diakui, damai hanya akan jadi formalitas di atas kertas.
Sebagai mediator, JK tidak punya kemewahan untuk berpikir terlalu normatif.
Ia harus masuk ke cara berpikir orang-orang yang sedang bertikai.
Ia harus memahami kenapa mereka bisa sampai pada titik itu.
Dan yang ia temukan, salah satunya, adalah bagaimana istilah agama digunakan, dipinjam, bahkan mungkin dipelintir untuk membuat tindakan kekerasan terasa sah.
Dalam konteks seperti itu, kata “syahid” tidak lagi berdiri sebagai konsep teologis yang utuh.
Ia berubah menjadi alat psikologis.
Semacam pembenaran cepat agar seseorang tidak merasa bersalah ketika melakukan sesuatu yang, dalam kondisi normal, pasti akan ditolak oleh nurani.
Ini mengingatkan pada gagasan Ludwig Wittgenstein tentang “permainan bahasa”.
Bahwa makna sebuah kata tidak selalu tetap, ia bisa berubah tergantung bagaimana dan di mana kata itu digunakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-02-Yusran.jpg)