Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson Abdul Karim

“Kafir” Ekologis

Ekoteologi merupakan cabang teologi yang mengkaji hubungan antara ajaran agama, manusia, dan lingkungan hidup.

Ist
KLAKSON - Abdul Karim Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora 

Keimanan menjadi hampa.

Jadi, bersujud namun merusak alam/lingkungan hidup adalah keimanan yang cacat.

Persoalannya, kerusakan lingkungan hidup terhampar dimana-mana.

Sialnya, kerusakan-kerusakan itu dipicu oleh kepentingan bisnis atas nama pembangunan dan kemajuan.

Hutan dibabat, gunung ditambang, pesisir laut disulap jadi daratan, sungai-sungai tercemar industri ekstraktif.

Inilah dosa kolektif, karena melanggar keseimbangan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Manusia membabi buta merusak alam.

Dengan ambisinya, manusia menguasai alam dengan menjarah isi dalamnya.

Mereka beranggapan alam dapat ditaklukkan.

Mereka lupa, bahwa alam punya cara untuk melawan.

Perlawanan alam itu dapat dilihat dari setiap episode banjir, longsor, gempa bumi, iklim yang ekstrim, hingga kemunculan aneka virus yang menggerogoti jasmani manusia.

Itulah dampak negatif dari perilaku “kafir” ekologis.

Manusia tak kunjung sadar bahwa kerusakan lingkungan merusak peradaban alam semesta dengan segala isinya.

Padahal, ekoteologi mengajarkan pentingnya menjaga keseibangan ekologi di alam semesta.

Sebegitu pentingnya menjaga alam menurut Prof. Muhaimin—hingga Nabi Muhammad SAW pernah bersabda; “andai saja kiamat terjadi esok, sempatkanlah tanam pohon hari ini”.

Tapi dasar manusia, mereka hanya doyan tanam investasi yang merusak lingkungan semesta.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved