Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson Abdul Karim

“Kafir” Ekologis

Ekoteologi merupakan cabang teologi yang mengkaji hubungan antara ajaran agama, manusia, dan lingkungan hidup.

Ist
KLAKSON - Abdul Karim Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora 

Oleh: Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora

TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam agama ada terma yang lantang dan menusuk.

Terma itu sebenarnya adalah lebel bagi sebuah level keimanan seseorang atau kaum yang menyimpang.

Dalam diskursus theologi Islam, terma yang dimaksud adalah “kafir”.

“Kafir” berakar dari bahasa Arab kafara yang berarti menutup atau menyembunyikan, merujuk pada orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Istilah ini menguat pada masa Nabi Muhammad SAW (571-632 M) sebagai antitesis dari iman, merujuk pada mereka yang menolak ajaran Islam.

Secara bahasa “kafir” berarti "menutup".

Istilah ini digunakan untuk membedakan antara mereka yang mengikuti ajaran Islam dengan mereka yang menolak kerasulan Nabi Muhammad SAW. 

Jadi “kafir” dalam Islam adalah klasifikasi sosial antara mereka yang menutup diri (menolak) kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Namun baru-baru ini, saya berbincang dengan seorang ilmuan Islam dalam sebuah diskusi dimedia ini terkait lingkungan, namanya Prof. DR. Muhaimin Latif.

Dalam acara yang diselenggarakan Walhi Sulsel bersama Tribun Timur itu, Professor Muhaimin melekatkan “kafir” ekologis bagi para perusak lingkungan hidup.

Ide Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar itu sungguh menukik.

Saya tahu Professor muda ini bukan mengkafirkan, tetapi “kafir” ekologis yang ia maksud adalah sebuah makna metaforis terhadap perilaku perusak alam.

Mengapa? Menurutnya, empat unsur pada tubuh manusia (air, api, tanah, angin) merupakan bagian pokok dari lingkungan.

Maka empat unsur itu yang terfaktakan dalam kosmos harus dijaga.

Barang siapa yang tak menjaga unsur-unsur itu maka ia mengingkari dirinya.

Dengan kata lain, siapa saja yang merusak unsur-unsur itu, maka sebenaranya ia merusak kemanusiaan.

Itulah mengapa pelaku kerusakan lingkungan dan alam disebut “kafir ekologis”.

Jadi istilah “kafir” ekologis merupakan tindakan yang mengingkari pentingnya menjaga keseimbangan ekologis, atau orang yang menutup telinga tentang perlunya memperbaiki kualitas lingkungan hidup.

Karena ingkar terhadap itu, mereka mengeksploitasi keterlaluan lingkungan hidup atas nama apa saja demi hasratnya.

Itulah perlunya memahami ekoteologi.

Ekoteologi merupakan cabang teologi yang mengkaji hubungan antara ajaran agama, manusia, dan lingkungan hidup.

Pendekatan ini memandang pelestarian alam sebagai amanah Tuhan, tanggung jawab moral, dan bagian dari ibadah/keimanan, bukan sekadar isu sosial.

Tujuannya adalah untuk menciptakan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dalam pandangan ini, alam-lingkungan hidup merupakan ciptaan Tuhan yang bernilai spiritual, etis, dan religius.

Ekoteologi lahir sebagai respon terhadap krisis ekologis global paruh kedua abad ke-20.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh teolog Joseph Sittler pada 1960-an, didorong oleh kritik Lynn White Jr. (1967) terhadap antroposentrisme keagamaan, dan menekankan tanggung jawab menjaga alam sebagai bagian dari iman.

Ekotheologi merupakan antitesa terhadap “kafir” ekologis.

Ekoteologi sebagai konsep beragama yang mengedepankan harmonisasi relasional antara Tuhan-alam-dan manusia.

Bila alam atau lingkungan hidup rusak, itu cermin rusaknya hubungan manusia dengan alam, dan rusaknya hubungan manusia dengan alam melambangkan rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan pula.

Keimanan menjadi hampa.

Jadi, bersujud namun merusak alam/lingkungan hidup adalah keimanan yang cacat.

Persoalannya, kerusakan lingkungan hidup terhampar dimana-mana.

Sialnya, kerusakan-kerusakan itu dipicu oleh kepentingan bisnis atas nama pembangunan dan kemajuan.

Hutan dibabat, gunung ditambang, pesisir laut disulap jadi daratan, sungai-sungai tercemar industri ekstraktif.

Inilah dosa kolektif, karena melanggar keseimbangan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Manusia membabi buta merusak alam.

Dengan ambisinya, manusia menguasai alam dengan menjarah isi dalamnya.

Mereka beranggapan alam dapat ditaklukkan.

Mereka lupa, bahwa alam punya cara untuk melawan.

Perlawanan alam itu dapat dilihat dari setiap episode banjir, longsor, gempa bumi, iklim yang ekstrim, hingga kemunculan aneka virus yang menggerogoti jasmani manusia.

Itulah dampak negatif dari perilaku “kafir” ekologis.

Manusia tak kunjung sadar bahwa kerusakan lingkungan merusak peradaban alam semesta dengan segala isinya.

Padahal, ekoteologi mengajarkan pentingnya menjaga keseibangan ekologi di alam semesta.

Sebegitu pentingnya menjaga alam menurut Prof. Muhaimin—hingga Nabi Muhammad SAW pernah bersabda; “andai saja kiamat terjadi esok, sempatkanlah tanam pohon hari ini”.

Tapi dasar manusia, mereka hanya doyan tanam investasi yang merusak lingkungan semesta.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved