Opini
Muhasabah Keduapuluh Lima: Mencari yang Hilang di Malam-malam Ganjil
Pertanyaan yang paling penting pada malam-malam ini bukan hanya: apakah ini Lailatul Qadr?.
Oleh: Salman Ahmad
MALAM-MALAM ganjil di penghujung Ramadhan selalu datang dengan atmosfer yang berbeda.
Malam ke-25, seperti malam-malam ganjil lainnya, menyimpan harapan yang khas.
Mungkin bukan hanya karena janji akan hadirnya Lailatul Qadr, namun disitu ada semacam jeda dari rutinitas, ada pengorbanan untuk menarik diri dari bising keseharian.
Banyak yang ingin merasakan dan mendengar kembali isi batinnya yang murni.
Pertanyaan yang paling penting pada malam-malam ini bukan hanya: apakah ini Lailatul Qadr?.
Namun, barangkali lebih penting kita bertanya apa yang sebenarnya sedang dicari pada malam-malam terakhir Ramadhan?.
Jawabannya, barangkali bukan sekadar pahala yang berlipat ganda.
Bukan pula semata-mata pengejaran terhadap suasana religius yang mengharubiru sesaat.
Yang dicari, sering kali tanpa disadari, adalah kemungkinan untuk menemukan kembali sesuatu yang pernah hidup di dalam diri, yang kini perlahan menghilang.
Yang hilang itu kerap bukan agama dalam bentuk yang tampak.
Seseorang masih shalat.
Masih berdiri, rukuk, sujud. Al-Qur’an tetap dibaca.
Dzikir tetap diucapkan.
Secara lahiriah, semuanya tetap ada dan utuh.
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Oleh-Salman-Ahmad-Alumnus-IMMIM-Pakar-Ikatan-Alumni-Timur-Tengah.jpg)