Opini
Muhasabah Keduapuluh Lima: Mencari yang Hilang di Malam-malam Ganjil
Pertanyaan yang paling penting pada malam-malam ini bukan hanya: apakah ini Lailatul Qadr?.
Ia turun dengan air mata, menyadari bahwa perjalanannya selama ini ternyata menuju arah yang salah." Tidak ada khutbah panjang.
Hanya satu ayat, pada satu malam.
Hidupnya lantas berbelok.
Sekali lagi, bukan karena penjelasan yang panjang, melainkan karena satu kalimat yang tepat, pada saat batin sedang terbuka.
Malam-malam akhir Ramadhan, semoga bisa mirip dengan keterbukaan hati dan kesadaran itu.
Ia tidak memaksa.
Ia tidak menghardik.
Ia hanya menyingkap.
Ia memperlihatkan, dengan cara yang sangat tenang, bahwa mungkin yang paling kita rindukan, bukan semata tambahan pahala, melainkan diri yang lebih jernih ketika bermunajat, lebih mudah tersentuh oleh ayat, dan lebih sungguh ketika berdiri di hadapan Allah.
Menemukan kembali yang hilang tidak selalu dimulai dengan peristiwa besar.
Tidak selalu dengan tangis panjang, tekad yang diumumkan, atau perubahan yang dramatis.
Kadang ia justru berawal dari sesuatu yang nyaris tak terlihat: jeda singkat sebelum takbir, satu ayat yang dibaca lebih lambat, satu sujud yang lebih jujur, atau satu istighfar yang akhirnya terasa.
Mungkin memang demikian cara cahaya kembali.
Ia tidak selalu datang seperti kilat yang membelah langit.
Kadang ia hadir seperti fajar: perlahan, tenang, hampir tak terdengar.
Tetapi cukup untuk membuat seseorang sadar bahwa yang selama ini ia cari bukan sesuatu yang jauh di luar dirinya.
Yang ia cari, diam-diam, adalah, isi batinnya yang murni. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Oleh-Salman-Ahmad-Alumnus-IMMIM-Pakar-Ikatan-Alumni-Timur-Tengah.jpg)