Opini
Muhasabah Keduapuluh Lima: Mencari yang Hilang di Malam-malam Ganjil
Pertanyaan yang paling penting pada malam-malam ini bukan hanya: apakah ini Lailatul Qadr?.
Namun dibalik itu, ada hal-hal yang kadang memudar yaitu: kesadaran bahwa ia sedang menghadap Allah, rasa butuh yang sangat intens kepadaNya, keterlibatan hati yang menjadikan ibadah sebagai perjumpaan, dan bekas batin yang seharusnya tertinggal setelah salam.
Di sinilah, agaknya, letak ironi kehidupan beragama hari ini. Kita tentu tidak kekurangan aktivitas keagamaan.
Masjid-masjid tetap penuh, aktivitas buka puasa bersama masih terus berjalan, suasana saf masjid di subuh hari pun masih padat.
Yang sering menipis justru daya hidup di dalam keberagamaan itu.
Kita masih berdiri dalam shalat, tetapi pikiran pun tetap sibuk di tagihan, notifikasi, urusan pekerjaan, atau kecemasan yang lain.
Punggung membungkuk dalam rukuk, tetapi ego tetap bertengger, kala kalimat subhana rabbial azim diucapkan.
Dahi menyentuh tanah, tetapi tidak selalu kita merasa rendah, hina-dina di hadapanNya.
Ayat dibaca, bahkan kadang dengan tartil yang baik, tetapi tak ada satu pun yang tertahan cukup lama untuk mengusik cara hidup.
Barangkali itulah sebabnya malam-malam terakhir Ramadhan terasa begitu penting.
Ia memberi jeda. Dan dalam hidup yang terlalu bising, jeda adalah kemewahan rohani yang langka.
Di dalam jeda itulah, manusia kadang mulai mendengar kembali sesuatu yang lama tertutup oleh kebiasaan.
"Kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh sering dikenang karena ia adalah contoh ekstrem tentang bagaimana batin yang paling keras sekalipun bisa melunak.
Sebelum dikenal sebagai ulama besar, ia adalah pemimpin penyamun yang ditakuti.
Namun, saat ia sedang memanjat pagar untuk mengejar maksiat, sebuah ayat dari kejauhan menyentuh pendengarannya: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS al-Hadid: 16).
Fudhail tidak turun dari pagar itu sebagai orang yang sama.
| Ambisi Motor Listrik MBG: Pendidikan Tersendat, Kebijakan Kehilangan Arah |
|
|---|
| Menolak Proyek Pengolahan Sampah di Parangloe, Tamalanrea |
|
|---|
| Obat Setelan: Sembuh Cepat, Risiko Panjang |
|
|---|
| Harla GP Ansor: Satu Komando Menuju Kemaslahatan |
|
|---|
| Mendobrak Sekat Pengawasan: Mengapa Partai Politik Adalah Jantung Pengawasan Partisipatif? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Oleh-Salman-Ahmad-Alumnus-IMMIM-Pakar-Ikatan-Alumni-Timur-Tengah.jpg)