Literasi Ulama
Prof. Dr. Afifuddin Harisah
Beliau lahir di Ujung Pandang, 22 Agustus 1973 dari pasangan Drs. KH. Muh. Harisah AS dan Hj. Jawariah.
Oleh: Firdaus Muhammad
Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen UIN Alauddin, dan Pengurus MUI Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah, Lc, MA, Pimpinan Umum Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Pendidikan Islam Multikultural.
Beliau lahir di Ujung Pandang, 22 Agustus 1973 dari pasangan Drs. KH. Muh. Harisah AS dan Hj. Jawariah.
Ia merupakan anak pertama dari 6 bersaudara.
Menempuh Pendidikan di Madrasah As’adiyah 170 cabang Makassar dan Pondok Pesantren An-Nahdlah dan merupakan santri pertama pada pesantren yang didirikan abbanya.
Kemudian melanjutkan pendidikan di UIN Alauddin selama setahun, kemudian lanjut kuliah dan penerima beasiswa di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Meraih gelar Lc tahun 1997 dan memilih kembali ke tanah air.
Kemudian melanjutkan S2 di Universitas Muslim Indonesia pada program Dirasat Islamiyah dan meraih Magister Agama tahun 2001.
Meraih doktor tahun 2013 di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.
Pada tahun 2013 Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah, LC, MA menerima estafet kepemimpinan Pesantren An-Nahdlah, melanjutkan kepemimpinan ayahnya yang wafat 20 Mei 2013 di Makassar.
Kala itu, Kiai Afifuddin tercatat sebagai dosen di IAIN Bone sehingga tahun yang sama berpindah tugas ke Universitas Islam Makassar dan kini bertugas di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar.
Prof. Afifuddin Harisah dikukuhkan sebagai guru besar pada Kamis, 2 April 2026 di ruang Auditorium UIN Alauddin Makassar, dengan judul pidato: Mangaji Tudang: Model Pendidikan Islam Multikultural dan Deradikalisasi Berbasisi Keluhuran Akhlak Pesantren.
Hadir dalam acara pengukuhan Dr. KH. Baharuddin HS, MA Ketua MUI Makassar, Rais Syuriah NU Sulsel yang juga merupakan pamannya, Dr. H. Ali Yafid Kakanwil Kemenag Sulsel.
Dalam pidatonya, Prof Afifuddin mengulas keberadaan generasi Z tumbuh di tengah arus informasi yang deras dan pergaulan yang semakin terbuka.
Namun, di balik keterbukaan itu, kita justru menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan: menipisnya empati sosial, mudahnya terprovokasi oleh perbedaan, dan menguatnya sikap eksklusif yang menolak realitas keragaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Firdaus-Muhammad-Guru-Besar-Komunikasi-Politik-Islam-UIN-Alauddin-Makassar.jpg)