Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Puasa sebagai Laboratorium Psikologi Pengendalian Diri dan Kesehatan Mental

Puasa bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah latihan psikologis yang secara alami dan sistematis

Tayang:
Editor: Ilham Arsyam
Dokumentasi Pribadi
OPINI - Basti Tetteng, Dosen fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) mengulas terkait ketrkaitan antara puasa dan psikologi 

Basti Tetteng

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar

“Di tengah dunia modern yang serba cepat, manusia semakin terbiasa hidup mengikuti dorongan sesaat. Kita makan bukan karena lapar, tetapi karena tersedia. Kita berbicara bukan karena perlu, tetapi karena ingin bereaksi. Kita marah bukan karena harus, tetapi karena tidak mampu menahan diri. Kemajuan teknologi telah memudahkan kehidupan, tetapi pada saat yang sama, secara perlahan mengikis satu kemampuan mendasar manusia: kemampuan mengendalikan diri”.

Dalam konteks inilah puasa menemukan maknanya yang paling mendalam. Puasa bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah latihan psikologis yang secara alami dan sistematis membentuk kembali kapasitas manusia untuk mengendalikan dirinya sendiri. Puasa adalah proses kembali menjadi manusia yang berdaulat atas dirinya, bukan manusia yang dikendalikan oleh dorongan biologis, emosi, dan tekanan lingkungan.

Al-Qur’an menyatakan bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa (QS Al-Baqarah: 183). Dalam perspektif psikologi, kondisi ini dapat dipahami sebagai tingkat kesadaran diri dan pengendalian diri yang tinggi. Individu yang mampu mengendalikan dirinya bukan hanya mampu menahan dorongan fisik-biologis semata, melainkan juga mampu mengarahkan perilakunya secara sadar dan bermakna. Kemampuan tersebut merupakan salah satu indikator utama kematangan psikologis, yang memungkinkan individu berfungsi secara adaptif dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Secara psikologis, Puasa melatih kemampuan manusia menunda kepuasan (delayed gratification), yaitu kemampuan untuk tidak segera memenuhi dorongan yang muncul. Hal ini terjadi karena selama berpuasa, individu secara sadar menahan lapar, haus, dan berbagai dorongan lainnya, meskipun memiliki kemampuan untuk memenuhinya. Tindakan ini mungkin tampak sederhana, tetapi secara psikologis, ia melibatkan mekanisme kompleks dalam otak yang berkaitan dengan pengendalian dorongan keinginan (impuls) dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, puasa memperkuat kapasitas regulasi diri (self-regulation), yaitu kemampuan individu untuk mengarahkan perilaku secara sadar sesuai tujuan dan nilai yang lebih bermakna.

Namun, kapasitas ini menghadapi tantangan serius dalam kehidupan modern. Lingkungan digital dan budaya instan mendorong individu untuk segera memenuhi setiap dorongan yang muncul. Ketersediaan makanan, hiburan, dan interaksi sosial secara instan memperkuat pola perilaku reaktif. Akibatnya, individu menjadi lebih rentan terhadap impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan stres psikologis. Dalam konteks ini, puasa dapat dipahami sebagai intervensi psikologis alami yang membantu memulihkan kapasitas regulasi diri yang semakin melemah.

Oleh karenanya dapat dipahami, ketika seseorang berpuasa, ia belajar bahwa dorongan tidak harus selalu diikuti. Ia belajar bahwa ketidaknyamanan dapat ditoleransi. Ia belajar bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk memilih, bukan sekadar bereaksi. Pengalaman ini memperkuat rasa kendali diri (sense of control), yang merupakan fondasi penting kesehatan mental.

Lebih jauh, puasa juga memperdalam kesadaran diri. Kondisi rasa lapar dan haus menciptakan ruang refleksi yang jarang hadir dalam kehidupan sehari-hari yang penuh distraksi. Individu menjadi lebih sadar akan kondisi internalnya, baik secara fisik maupun psikologis. Kesadaran ini memungkinkan individu untuk memahami dirinya secara lebih mendalam, yang merupakan langkah awal dalam proses perubahan dan pertumbuhan psikologis.

Selain itu, puasa juga berperan membangun ketahanan mental (psychological resilience). Dengan menahan ketidaknyamanan secara sadar selama berpuasa, individu belajar bahwa ia mampu bertahan dan beradaptasi. Ia belajar bahwa kesulitan tidak harus dihindari, tetapi dapat dihadapi dan dikelola. Pengalaman ini memperkuat kepercayaan diri psikologis, yaitu keyakinan bahwa individu memiliki kapasitas untuk menghadapi tantangan hidup.

Puasa juga memiliki implikasi sosial yang signifikan. Pengalaman menahan lapar membuka ruang bagi individu untuk memahami kondisi orang lain yang hidup dalam keterbatasan. Pengalaman ini menumbuhkan empati yaitu kemampuan untuk memahami dan merasakan pengalaman orang lain. Empati merupakan fondasi penting bagi kohesi sosial, karena memungkinkan individu membangun hubungan sosial yang lebih harmonis. Dengan demikian,  Puasa tidak hanya membentuk individu yang lebih kuat secara psikologis, tetapi juga masyarakat yang lebih manusiawi.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa puasa dimaksudkan sebagai jalan menuju kemudahan, bukan kesulitan (QS Al-Baqarah: 185). Hal ini menunjukkan bahwa puasa bukanlah bentuk penyangkalan terhadap kebutuhan manusia, melainkan proses pembentukan kapasitas psikologis secara bertahap. Melalui puasa, manusia belajar mengenali kekuatan internalnya, yaitu kemampuan untuk menahan diri, bersabar, dan  tetap teguh dalam menghadapi tekanan.

Dalam perspektif ini, puasa dapat dipahami sebagai sebuah laboratorium psikologi. Ia menyediakan ruang bagi manusia untuk melatih kapasitas terdalam dirinya. Ia menguji, sekaligus memperkuat, kemampuan manusia untuk mengendalikan impuls, mengelola emosi, dan bertindak secara sadar. Puasa mengembalikan manusia kepada esensi dirinya sebagai makhluk yang memiliki kehendak dan kesadaran.

“Di tengah kehidupan dunia yang semakin bising dan reaktif, puasa mengajarkan diam. Di tengah dunia yang semakin impulsif, puasa mengajarkan kendali. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, puasa mengajarkan keutuhan diri”.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar praktik menahan lapar dan haus, tetapi merupakan proses pembentukan kepribadian yang lebih matang secara psikologis. Puasa membantu individu mengembangkan kemampuan pengendalian diri, stabilitas emosi, dan ketahanan mental. Dalam kemampuan mengendalikan diri tersebut, individu menemukan kembali kapasitasnya sebagai agen yang memiliki kendali atas dirinya sendiri

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved