Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Menggugat Relativisme: Antara Netralitas Palsu dan Pelumpuhan Keberpihakan Moral

Dalam diskursus keagamaan kontemporer, relativisme bahkan kerap dianggap sebagai tanda kedewasaan beragama:

Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
PENULIS OPINI - Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Ahmad Raihan. Dia menulis opini tentang relativisme. 

Ahmad Raihan

Mahasiswa UIN Alauddin

RELATIVISME sering muncul sebagai narasi paling aman di tengah kompleksitas global.

Ia menuntut dengan bahasa toleransi, kemanusiaan, keterbukaan, dan kebebasan.

Dalam diskursus keagamaan kontemporer, relativisme bahkan kerap dianggap sebagai tanda kedewasaan beragama: semakin seseorang mengklaim kebenaran, semakin ia dicurigai sebagai eksklusif, tidak moderat, dan berpotensi melahirkan konflik.

Namun, di tengah struktur ketimpangan global yang nyata dan berlapis, relativisme justru menjelma menjadi kebutuhan ideologis untuk menetralkan kebenaran, melumpuhkan keberpihakan moral, dan menopang tatanan kekuasaan yang dominan.

Relativisme tidak lagi berdiri sebagai posisi filosofis netral, melainkan berfungsi sebagai perangkat ideologis yang efektif untuk mengaburkan ketidakadilan struktural.

Perlu ditegaskan sejak awal: relativisme yang dikritik di sini bukanlah pengakuan atas keberagaman perspektif empiris, melainkan relativisme epistemologis-normatif yang menolak adanya kebenaran objektif dan standar moral universal.

Relativisme jenis inilah yang mencurigai setiap klaim kebenaran, memandangnya sebagai sumber konflik, dan pada saat yang sama mempromosikan netralitas semu di hadapan ketidakadilan.

Relativisme selalu hadir ketika keberpihakan moral mulai dituntut.

Saat penindasan disebut penindasan, penjajahan disebut penjajahan, dan kezaliman dituntut pertanggungjawaban etik, relativisme datang menawarkan jarak aman: “semua tergantung perspektif”, “realitas tidak sesederhana hitam-putih”, atau “kita harus netral”. 

Netralitas semacam ini bukanlah kebajikan, melainkan bentuk pengunduran diri moral.

Akar historis relativisme dapat ditelusuri dari pengalaman traumatik tradisi sekular-liberal Eropa Barat.

Dominasi gereja, perang agama, dan kekerasan atas nama Tuhan melahirkan ketakutan kolektif terhadap klaim kebenaran.

Dari pengalaman ini, kebenaran kemudian diprivatisasi, dicurigai, dan direduksi menjadi preferensi individual.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Ayo, ke Timur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved