Opini
Menggugat Relativisme: Antara Netralitas Palsu dan Pelumpuhan Keberpihakan Moral
Dalam diskursus keagamaan kontemporer, relativisme bahkan kerap dianggap sebagai tanda kedewasaan beragama:
Editor:
Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
PENULIS OPINI - Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Ahmad Raihan. Dia menulis opini tentang relativisme.
Kritik terhadap relativisme absolut bukanlah penolakan terhadap dialog atau pluralitas.
Justru dialog hanya mungkin bermakna jika kebenaran tidak disangkal.
Tanpa tolak ukur kebenaran, dialog berubah menjadi arena negosiasi kepentingan tanpa standar moral.
Kita tidak membutuhkan relativisme untuk menjadi manusiawi.
Dengan klaim kebenaran dan postulat-postulat Islam yang hakiki, umat justru memiliki daya kritik terhadap zionisme, kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme global sebagai akar ketimpangan struktural.
Menyatakan kebenaran bukanlah fanatisme atau ekstremisme, melainkan tindakan politik yang mendasar.(*)
Berita Terkait: #Opini
| Badik Bukan Kekerasan: Analisis Kritis terhadap Penyalahpahaman Nilai Siri’ dalam Praktik Sosial |
|
|---|
| Ambisi Motor Listrik MBG: Pendidikan Tersendat, Kebijakan Kehilangan Arah |
|
|---|
| Menolak Proyek Pengolahan Sampah di Parangloe, Tamalanrea |
|
|---|
| Obat Setelan: Sembuh Cepat, Risiko Panjang |
|
|---|
| Harla GP Ansor: Satu Komando Menuju Kemaslahatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251230-Ahmad-Raihan-1.jpg)