Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Menggugat Relativisme: Antara Netralitas Palsu dan Pelumpuhan Keberpihakan Moral

Dalam diskursus keagamaan kontemporer, relativisme bahkan kerap dianggap sebagai tanda kedewasaan beragama:

Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
PENULIS OPINI - Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Ahmad Raihan. Dia menulis opini tentang relativisme. 

Dalam kerangka hegemoni, relativisme bekerja bukan melalui represi terbuka, melainkan melalui konsensus semu: menormalisasi ketidakadilan sebagai sekadar perbedaan perspektif dan mematikan daya resistensi moral sejak level kesadaran.

Kelompok dominan membutuhkan stabilitas ideologis, ekonomi, dan sosial-politik untuk melanggengkan cara kerjanya.

Dalam kondisi ketimpangan ekstrem, klaim kebenaran objektif menjadi ancaman. Karena itu, narasi ketidakadilan dan penindasan struktural direduksi menjadi bahasa yang jinak: “penjajahan” menjadi “konflik”, “genosida” menjadi “dinamika geopolitik”, dan “eksploitasi sistemik” disamarkan sebagai “mekanisme pasar”.

Lebih jauh, relativisme melahirkan mentalitas pasif dan apatis di kalangan masyarakat tertindas.

Dengan dalih toleransi dan netralitas, umat didorong untuk menahan penilaian moral, menghindari keberpihakan, dan mencurigai setiap sikap tegas sebagai ekstremisme.

Akibatnya, kesadaran kritis melemah, solidaritas sosial terkikis, dan perlawanan terhadap ketidakadilan membeku.

Dalam situasi ini, relativisme berfungsi sebagai alat hegemonik yang efektif untuk melanggengkan dominasi.

Islam dan Klaim Kebenaran

Al-Qur’an secara konsisten mengecam penumpukan kekayaan, kerakusan, keserakahan, dan otoritas yang sewenang-wenang. Klaim kebenaran Islam tidak bisa dilepaskan dari konsekuensi logis kalimat tauhid: laa ilaaha illallah.

Secara epistemik, Islam menolak tirani, menegasikan tuhan-tuhan kecil dan Fir’aun-Fir’aun modern (laa ilaaha), lalu mengafirmasi Kebenaran Universal—Allah, Raja di Hari Pembalasan (illallah).

Klaim al-Haqq dalam Islam bukanlah klaim dominasi identitas atau monopoli keselamatan, melainkan klaim normatif-etis untuk menolak normalisasi kezaliman, eksploitasi, dan pengkultusan kuasa. Islam tidak menempatkan diri sebagai wasit netral yang mencuci tangan dari konflik, tetapi mendorong kesadaran moral dan keberpihakan pada mereka yang dilemahkan.

Relativisme datang mereduksi Islam menjadi spiritualitas privat tanpa daya dobrak struktural.

Di sinilah relativisme berfungsi sebagai false consciousness—pelemahan kesadaran umat agar tercerabut dari akar emansipatorisnya.

Padahal, secara antropologis dan historis, Islam lahir dari keberanian Nabi Muhammad SAW menginterupsi Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan, dan struktur oligarki Quraisy yang kapitalistik.

Prinsip amar ma’ruf nahi munkar adalah mandat sosial-politik, bukan sekadar nasihat personal.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved