Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Milad 113 Muhammadiyah: Ajang Mencerahkan, Menggerakkan dan Menggembirakan

Milad di Palopo ini menyusul perayaan Milad Muhammadiyah tingkat nasional di Kota Bandung.

Tayang:
Editor: Sudirman
TRIBUN TIMUR/Ist
OPINI - Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel 

Pencerahan, pada akhirnya, adalah kerja yang menyiapkan generasi: bukan hanya generasi yang “baik”, tetapi generasi yang “mampu”—mampu membaca zaman dan mampu menjaga nilai saat zaman berubah.

Pada puncak Milad, termasuk di tingkat wilayah Sulsel kali ini, penghargaan bagi para juara lomba dan pemilihan PDM terbaik Sulawesi Selatan juga bukan sekadar seremoni.

Ia menjadi penegasan bahwa gerak pencerahan itu harus terukur: PDM yang aktif melakukan pencerahan umat di wilayah baktinya diberi apresiasi, agar tradisi kerja baik menjadi budaya yang diwariskan, bukan sekadar cerita yang dikenang.

Ajang Menggerakkan

Jika pencerahan adalah energi pikiran dan iman, maka menggerakkan adalah energi tindakan. Dalam literasi sejarah Muhammadiyah, misi Al-Ma’un bukan barang pajangan; ia dipraktikkan menjadi gerakan sosial yang nyata.

Dari sinilah lahir rumah sakit PKO/PKU, lahir panti asuhan Muhammadiyah–‘Aisyiyah, lahir sistem layanan yang menyantuni anak yatim dan dhuafa—mengurusi makan, pakaian, pendidikan, merawat saat sakit, dan menegakkan martabat kemanusiaan dengan kerja yang terorganisir.

Milad, dalam konteks ini, bukan hanya perayaan hari jadi, melainkan pengingat bahwa Muhammadiyah itu bekerja: menggerakkan gerakan sosial, pendidikan, dan dakwah sekaligus.

Dan bagian “menggerakkan” itu tampak jelas ketika aksi sosial diluncurkan secara simultan.

Tim medis keliling misalnya, memberikan pemeriksaan gratis di daerah kota dan daerah terpencil. Kampanye literasi digital menyasar generasi muda hingga warga usia lanjut.

Semua itu dijalankan dengan prinsip fastabiqul khairat—bergotong-royong dalam kebaikan, berlomba-lomba menghadirkan manfaat yang paling terasa.

Menariknya, Milad juga menggerakkan ekonomi umat secara langsung. Saat pelaksanaan Milad, arus kendaraan yang pergi-pulang ke Kota Palopo otomatis menciptakan denyut ekonomi: mengisi bahan bakar, membeli makanan, menyewa hotel atau penginapan, dan menghidupkan atmosfer ekonomi lainnya.

Di situ kita melihat bahwa kegiatan keagamaan, jika dikelola dengan baik, tidak hanya “ramai” secara sosial, tetapi juga “berdampak” secara ekonomi.

Ini sekaligus menegaskan satu hal: Muhammadiyah bukan sekadar gerakan yang pandai berdoa, tetapi gerakan yang terbiasa menata ikhtiar, merancang program, dan mengukur manfaat.

Ajang Menggembirakan

Namun gerakan tidak boleh kehilangan unsur yang sering dianggap remeh: kegembiraan. Sebab kegembiraan adalah energi sosial; ia mengikat kebersamaan, menyuburkan solidaritas, dan membuat orang betah dalam kerja panjang.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved