Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Milad 113 Muhammadiyah: Ajang Mencerahkan, Menggerakkan dan Menggembirakan

Milad di Palopo ini menyusul perayaan Milad Muhammadiyah tingkat nasional di Kota Bandung.

Editor: Sudirman
TRIBUN TIMUR/Ist
OPINI - Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel 

Oleh: Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - MILAD ke-113 Muhammadiyah tingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang digelar di Kota Palopo, 6 Desember 2026, patut dibaca bukan semata sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai momentum sosial-keagamaan yang menyatukan tiga energi sekaligus, yakni mencerahkan, menggerakkan, dan menggembirakan.

Palopo menjadi titik temu beragam simpul gerakan; dari kader, amal usaha, ortom, hingga warga, yang datang bukan hanya untuk hadir, tetapi untuk menegaskan ulang, bahwa Muhammadiyah adalah kerja panjang, dan kerja itu punya dampak.

Milad di Palopo ini menyusul perayaan Milad Muhammadiyah tingkat nasional di Kota Bandung, yang dilaksanakan tepat pada tanggal kelahiran Muhammadiyah, 11 November 1912–11 November 2025.

Dari Bandung ke Palopo, dari nasional ke wilayah, kita melihat satu garis makna yang sama, bahwa Muhammadiyah sedang menghidupkan kembali tradisi gerakan, bukan nostalgia, melainkan pembaruan (tajdid) yang terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman, sekaligus tetap setia pada fondasi nilai.

Ajang Mencerahkan

Sebagai organisasi modern, Muhammadiyah sejak awal menginsyafi bahwa pencerahan bukan slogan, melainkan mandat risalah: yukhrijuhum minadzdzulumaati ilannur—mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Kalimat ini, jika diterjemahkan ke dalam kerja sosial-keagamaan, berarti mengubah keadaan yang belum paham menjadi paham, yang masih lalai menjadi taat, yang masih menyimpang kembali ke jalan lurus, yang kafir menjadi beriman.

Di titik inilah pencerahan bukan sekadar ceramah, tetapi proses panjang membentuk nalar, akhlak, dan orientasi hidup.

Karena itu, pencerahan Muhammadiyah tidak pernah berjalan musiman. Sepanjang tahun, pengajian rutin bulanan dan pekanan di level cabang dan ranting Muhammadiyah–‘Aisyiyah terus bergerak, menjadi ruang pendidikan publik yang merawat akal sehat umat.

Di kampus-kampus Muhammadiyah–‘Aisyiyah (PTMA), diskusi, seminar, dan bedah buku menegaskan bahwa dakwah juga membutuhkan tradisi ilmiah: membaca, menguji, mengkaji, lalu menyimpulkan dengan tanggung jawab akademik.

Ortom pun tidak tinggal diam. IPM, IMM, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Hizbul Wathan, hingga Tapak Suci Putra Muhammadiyah, masing-masing menjalankan pencerahan dalam bentuknya sendiri: pengkaderan, pembinaan karakter, literasi sosial, hingga penguatan disiplin dan etos berkemajuan.

Bahkan di pondok pesantren Muhammadiyah–‘Aisyiyah, kajian kitab-kitab turats dilakukan secara rutin—sebuah pesan penting bahwa modernitas Muhammadiyah tidak identik dengan memutus tradisi, melainkan mengolahnya agar relevan dan membumi.

LP2M yang menginisiasi Kemah Tahfidz dan Bahasa setiap tahun, misalnya, menjadi ajang pembuktian kualitas keilmuan santri dan siswa sekolah/madrasah Muhammadiyah, khususnya dalam ranah ISMUBARIS (al-Islam, Kemuhammadiyahan, Bahasa Arab dan Inggris).

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved