Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson

Cekcok NU

Kehadiran mantan Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan itu di tubuh NU mengundang tanya besar dikalangan Nahdiyyien.

|
Editor: Sudirman
Ist
KLAKSON - Abdul Karim Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Majelis Demokrasi dan Humaniora 

Tema silang pendapat itu beragam; mulai dari soal agama, relasi ummat beragama, sosial, ekonomi ummat, hingga politik dan kebudayaan.

Dari sini, NU panen pemikir keagamaan, aktivis sosial, praktisi politik dan kebudayaan.

Namun silang pendapat kali ini bukan berkait dengan itu. Tetapi tentang tambang plus dugaan money loundry.

Akhirnya, cekcok yang kini berlangsung hanya melahirkan perpecahan tajam dan merusak citra NU.

Dan efeknya dalam jangka panjang tentu tak mudah dilupa publik.

Setidaknya, beberapa efek yang berkesan negatif berpotensi dilekatkan ditubuh NU karena cekcok itu.

Pertama, NU mengecewakan ummat, terutama kaum Nahdlyyien. Percekcokan karena tambang adalah sesuatu yang tak lazim dalam sejarah NU.

Sebab biasanya perselisihan pendapat di NU berkait dengan pemikiran keagamaan, sosial, politik dan kebudayaan.

Tapi perselisihan kali ini berjudul “tambang”. Kecewa pada akhirnya sulit ditampik.

Kedua, marwah NU sebagai ormas keagamaan terhakis.

Sejarah panjang NU adalah sejarah tentang dedikasi untuk bangsa. Sejak zaman kolonial hingga zaman now semua tahu, bahwa NU adalah organisasi sepuh yang perannya tak dapat dialienasi dari sejarah perkembangan bangsa kita.

Perannya dalam dunia sosial—keagamaan hingga politik kewargaan bukanlah peran sederhana.

Ketiga, NU sebagai ormas keagamaan yang didirikan ulama kempes legitimasi sosialnya dalam gerakan moral keagamaan-kebangsaan.

Dugaan money loundry Maming yang beririsan dengan elit PB NU serta cekcok gegara tambang berpotensi melahirkan krisis kepercayaan bangsa pada NU—terutama dalam hal moralitas berbangsa-bernegara.

Fatwa-fatwanya kelak, berpotensi tak dipercaya ummat. Keempat, watak spiritualitas NU tercemar.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved