Klakson
Gen Z dan Politik
Bahkan hingga kini, pemikiran-pemikiran politik mereka masih sering kita temukan di toko-toko buku.
Oleh; Abdul Karim
Ketua Lakpesdam NU Sulsel, Majelis Demokrasi & Humaniora
TRIBUN-TIMUR.COM - Peran anak muda dalam sejarah politik bangsa memang cukup mencerahkan.
Tokoh-tokoh seperti Seokarno, Hatta, Soetan Sjahrir, Wahid Hasyim, Wahab Rajab, Tan Malaka merupakan sederet tokoh politik bangsa yang meleburkan diri dalam politik diusia muda.
Mereka mencolok dimasa itu, bukan saja karena tubuhnya terlibat dalam pergerakan politik, tetapi otaknya juga cukup mewarnai wacana politik saat itu.
Bahkan hingga kini, pemikiran-pemikiran politik mereka masih sering kita temukan di toko-toko buku.
Perdebatan gagasan politik antar mereka menjadi pengetahuan penting dalam sejarah politik bangsa kita.
Itulah mengapa Soekarno punya penggalan pidato yang populer; “berikan aku 10 pemuda niscaya akan kugoncang dunia”.
Pidato yang penuh getaran itu menunjukkan pemuda begitu dahsyat kekuatannya dalam politik bangsa.
Mengapa? Sebab tubuh dan otak mereka berperan nyata dalam politik saat itu dan cukup menonjol bekas-bekasnya. Mereka produktif beradu gagasan dengan sesama politisi dizamannya.
Kini, setelah 80 tahun bangsa kita merdeka, anak muda yang sering disebut Gen Z banyak terdorong dalam kancah politik.
Yang terbaru—dalam konteks Sulsel—koran ini mewartakan sejumlah anak muda mengisi kursi partai politik (parpol) kita. “Parpol Sulsel Bidik Gen Z”, judul warta itu (Tribun Timur, 25/8/2025).
Diwartakan, sejumlah anak muda mengisi kursi-kursi penting di parpol tingkat lokal. Mereka rerata kerabat politisi yang selama ini mewarnai politik lokal. Artinya, Gen Z disini, bukanlah Gen Z biasa.
Lebih sepuluh tahun silam, wacana Gen Z menjadi diskursus publik. Pengamat menyebut pertumbuhan massif Gen Z adalah modal masa depan bangsa. Mereka disebut generasi emas bangsa.
Saat itu, parpol membidik Gen Z. Parpol ramai pasang caleg muda. Targetnya jelas; mendulang suara dari kaum muda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-1.jpg)