Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Bahaya Laten Perundungan

Di Pesisir Barat, Lampung, seorang siswa SMP menusuk temannya dengan gunting hingga tewas.

Editor: Ansar
Tribun-Timur.com
TRIBUN OPINI - M. Yunasri Ridhoh Dosen Pendidikan Pancasila UNM. Yunasri penulis opini Bahaya Laten Perundungan 

Anak-anak bukan hanya objek didikan, tetapi individu yang perlu dihargai dan didengar.

Perundungan bisa dihentikan jika kita mengubah cara kita melihat dan merespons masalah ini.

Mengabaikannya sama dengan membiarkan bibit kekerasan terus tumbuh.

Sekolah yang sehat bukan sekolah tanpa konflik, tetapi sekolah yang memiliki mekanisme pemulihan.

Anak-anak perlu tahu bahwa mereka bisa berbicara, mengadu, dan tetap dihargai.

 Teman sebaya harus diajarkan empati, bukan menertawakan penderitaan orang lain.

Guru BK harus hadir bukan sekadar administratif, tetapi sebagai konselor yang siap mendengar tanpa menghakimi.

Orang tua harus mendampingi, bukan menekan atau menyalahkan.

Masa depan anak-anak dibentuk dari pengalaman hari ini.

Jika sekolah masih menjadi tempat yang menakutkan, maka kita sedang menyiapkan generasi yang membawa trauma, dendam itu ke mana pun mereka pergi.

Perundungan bukan hanya merusak korban, tetapi juga pelaku, penonton, dan masyarakat luas. Ia adalah bahaya laten yang terus berulang.

Pertanyaan sederhana tetapi krusial tetap sama: Apakah anak-anak kita merasa aman ketika berada di sekolah? Jika jawabannya belum yakin, maka bahaya laten itu terus hidup, membunuh potensi, membunuh masa depan, dan mungkin peristiwa di atas membunuh nyawa.

Bagaimana Mengakhirinya?

Mengakhiri perundungan bukan sekadar menghukum pelaku atau memberi sanksi formal.

Ia membutuhkan kehadiran nyata dari semua pihak. Mendengarkan anak yang menjadi korban, membangun budaya empati, dan menjadikan sekolah sebagai ruang aman adalah langkah-langkah yang harus dilakukan tanpa kompromi.

Bahaya laten perundungan hanya bisa dihentikan jika kita berhenti menganggapnya sebagai masalah orang lain.

Sebab setiap anak yang trauma, dendam, bahkan yang menjadi pelaku dan penonton adalah wajah dari kegagalan kita menjaga martabat kemanusiaan dalam pendidikan.

Dan pendidikan yang sesungguhnya adalah pendidikan yang membuat anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. (*)

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved