Opini
Bahaya Laten Perundungan
Di Pesisir Barat, Lampung, seorang siswa SMP menusuk temannya dengan gunting hingga tewas.
Trauma yang ditimbulkan memang tidak selalu tampak, tetapi efeknya panjang, menembus batas-batas ruang dan waktu, lalu membentuk cara seseorang memandang dirinya dan dunia.
Merayakan Kegagalan dan Anatomi Perundungan
Pada 7 November 2025 Kompas memuat berita tentang ajakan UNESCO agar merayakan Hari Internasional Menentang Kekerasan dan Perundungan di Sekolah, termasuk perundungan siber setiap hari kamis pertama di bulan November.
Peringatan ini menegaskan bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun melanggar hak anak atas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Catatan UNESCO mengungkapkan sedikitnya 246 juta anak di seluruh dunia mengalami kekerasan di sekolah setiap tahun.
Satu dari tiga pelajar menjadi korban perundungan, dan satu dari sepuluh pernah mengalami perundungan siber.
Ironisnya, peringatan atau perayaan itu muncul justru saat kabar perundungan tetap membanjiri ruang publik kita.
Bukankah itu seperti merayakan kegagalan?. Dunia menyuarakan anti-kekerasan, sementara di lapangan kasus terus terjadi.
Di sinilah kita melihat paradoks, dimana dunia menandai hari untuk melawan kekerasan, tetapi sekolah, ruang yang seharusnya aman, masih merawat problem yang sama.
Perundungan bukan peristiwa tunggal. Ia adalah rangkaian kejadian yang saling berkaitan. Ia memiliki anatomi yang bisa dibaca jika kita mau menengok lebih dekat.
Ada pelaku yang sering kali juga membawa luka dari tempat lain, di rumah, di masyarakat, atau dari pengalaman masa lalu.
Mereka belajar bahwa kekerasan adalah cara cepat mendapatkan pengakuan dan kontrol sosial.
Ada pula korban yang biasanya berbeda, sensitif, inferior, atau dianggap lemah oleh kelompok mayoritas.
Yang paling menentukan sebetulnya adalah penonton, mereka yang melihat tapi memilih diam.
Diam karena takut, karena tidak tahu harus berbuat apa, atau karena merasa itu bukan urusan mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/M-Yunasri-Ridhoh-Dosen-Pendidikan-Pancasila-UNM-p.jpg)