Opini
Tena Harapang Punna Kammanne
Bukan karena semuanya indah, tapi justru karena tahun ini membuka mata kita dengan cara yang pahit, keras, dan tak jarang menyakitkan.
Oleh: Tutik Sutiawati
Pendidik dan Penggiat Literasi Sejarah “Kassikebo”
TRIBUN-TIMUR.COM - Banyak orang berlomba-lomba ingin segera melupakan tahun 2025.
Seolah tahun ini hanya deretan kabar buruk yang pantas dikubur bersama kalender lama.
Tapi izinkan saya berkata jujur. Maaf, 2025ku luar biasa. Terlebih Indonesiaku di 2025.
Bukan karena semuanya indah, tapi justru karena tahun ini membuka mata kita dengan cara yang pahit, keras, dan tak jarang menyakitkan.
Refleksi bukan berarti mengulang luka. Refleksi adalah memberi makna pada perjuangan yang selama ini kita anggap biasa.
Tahun 2025 penuh dengan peristiwa yang memaksa kita berhenti, menoleh, lalu bertanya: “kemana sebenarnya kita sedang berjalan sebagai bangsa”.
Januari 2025 dibuka dengan keputusan PSSI yang memecat pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae Yong.
Keputusan sepihak, tiba- tiba, tanpa penjelasan yang utuh kepada publik.
Pecinta sepak bola tanah air seolah terbangun dari ilusi kemajuan.
Kita kira sepak bola Indonesia dibangun dengan kesabaran dan arah yang jelas.
Ternyata lagi-lagi, kepentingan dan ego lebih dominan daripada proses.
Dihari yang sama, program MBG diresmikan.
Ironi itu terasa lengkap, antara mimpi besar dan realitas yang seringkali tidak sejalan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-11-26-Tutik-Sutiawati.jpg)