Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Turats dan Wacana Intelektual

Saat ini, kitab kuning sudah tidak diproduksi lagi, kecuali kertas QPP atau Qur'an Paper yang dirancang khusus untuk al-Qur'an.

Editor: Sakinah Sudin
Grafis Tribun Timur/ Muhlis
OPINI - Potret Dr Ilham Kadir MA, Alumni Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju; Dosen UNIMEN. Ilham Kadir salah satu penulis Opini Tribun Timur. 

Oleh: Dr Ilham Kadir MA

Alumni Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju; Dosen UNIMEN

TRIBUN-TIMUR.COM - Turats, diartikan secara bahasa dengan "peninggalan" erat kaitan dengan akar kata kerja "waratsa" yakni mewarisi, lalu terbentuk menjadi kata sifat, "turats" bermakna warisan atau peninggalan.

Sedangkan dari aspek istilah, turats adalah kitab-kitab peninggalan para ulama masa lampau. Dahulu kala, turats identik dengan kertas warna kuning, karena itu di kepulauan Nusantara, orang-orang menyebut dengan nama "Kitab Kuning".

Saat ini, kitab kuning sudah tidak diproduksi lagi, kecuali kertas QPP atau Qur'an Paper yang dirancang khusus untuk al-Qur'an.

Sebenarnya pilihan warna kuning tidak asal-asalan, warna tersebut dipilih agar pembaca lebih tahan menatap dan membaca tulisan. 

Dan biasanya dipadukan dengan warna hijau berisi garis atau bunga di samping kitab.

Itu semua trik untuk mengurangi kelelahan mata ketika fokus baca dan menalaah kitab gundul.

Pekan ini merupakan waktu tersibuk bagi panitia penyelenggara Musabaqah Qira'atil Qutub Internasional pertama di Sengkang, dimulai , 2 hingga 7 Oktober 2025, dihadiri 10 negara dan tujuh ribu orang.

Kegiatan ini mengusung tema "Dari Pesantren untuk Dunia".

Tulisan singkat ini akan meneropong terkait budaya baca turats di pesantren disertai dengan pembentukan wacana intelektual sejak dini.

Sebagaimana yang pernah saya alami ketika menjadi santri selama delapan tahun (1989-1987) di Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju, Bone, Indonesia.

Pendidikan di Pondok Pesantren memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan berbagai jenis lembaga pendidikan yang ada di muka bumi ini.

Setiap pesantren memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan lain. Namun tetap memiliki kesamaan yang kita sebut saja sebagai syarat dan rukun-rukun. 

Syarat berdirinya sebuah pesantren adalah: memiliki kiai, santri, asrama, masjid, dan kitab kuning.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved