Opini
Turats dan Wacana Intelektual
Saat ini, kitab kuning sudah tidak diproduksi lagi, kecuali kertas QPP atau Qur'an Paper yang dirancang khusus untuk al-Qur'an.
Setelah masuk semister kedua tahun pertama, tidak ada lagi bunyi-bunyian yang keluar dari mulut kecuali, bahasa Arab dan Inggris. Selain itu akan menimbulkan musibah bagi yang bertutur selain kedua bahasa itu.
Mata pelajaran pada tahun kedua semuanya sudah berbahasa Arab, sharaf dan nahwu sudah harus digunakan, sehingga pemggunaan bahasa Arab sudah cukup bagus oleh para santri, karena telah menggunakan kaidah baku, walaupun dengan aksen Bugis yang kental.
Selain itu, setiap santri diwajibkan menulis karangan yang disebut "insya' yaumiyah" atau "karangan harian", yang jumlahnya antara 300 hingga 500 kata, dan bersifat paksaan.
Para mata-mata disebar setiap penjuru, menulis kata-kata dan percakapan santri selain dari bahasa Arab dan Inggris.
Bagi yang melanggar akan mendapat sanksi, jika sering melanggar, akan dibotak rambutnya, diskorsing, hingga dipulangkan ke orang tuanya.
Latihan-latihan podato juga menggunakan bahasa Arab, diadakan sekali hingga dua kali seminggu, dan setiap semiater (6 bulan) diadakan lomba pidato tiga bahasa: Arab, Inggris, Indonesia.
Saya termasuk orator yang disegani waktu di Pondok kala itu. Karena dianggap bahasa Arab saya cukup baik.
Pada tahun keempat, kelima, dan tahun akhir KMI, para santri sudah masuk akil balig, dan wacana intelektual di pesantren berkembang pesat.
Kami diajari filsafat pendidikan, malalui materi "at-Tarbiyah wa at-Ta'lim", pendapat-pendapat filsuf seperti Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Ibnu Muqaffa dan lainnya sudah jadi bahasan dan perdebatan hangat di antara para santri.
Demikian pula dasar ilmu-ilmu dua belas yang terbagi menjadi ilmu alat, ilmu sarana, dan ilmu utama, kami pelajari dengan sistematis dan berjenjang (tadarruj).
Ilmu-ilmu dimaksud adalah, sharaf, nahwu, bayaan, ma'ani, dan badi' (ilmu alat), juga ilmu ushul fiqh, ulmul hadits, ulumul qur'an, hingga mantiq (ilmu sarana), dan ilmu-ilmu utama seperti tauhid, fikih, tafisr dan hadis.
Saya bahkan sempat mengajar ilmu balaghah selama dua tahun, dan kelak ilmu ini mengantarkan saya untuk menulis dengan daya tarik tersendiri.
Ilmu ini saya lebih suka jika disebut sebagai, ilmu komunikasi.
Sebab mengajarkan kita untuk menggunakan kata-kata yang tepat pada setiap pendengar atau pembaca yang memiliki tingkat pemahaman yang berbeda.
Tidak hanya sampai di situ, para santri bahkan mengkaji kitab-kitab hadharah islamiyah atau sejarah peradaban Islam dari masa ke masa.
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulawesi Selatan |
|
|---|
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Turats-dan-Wacana-Intelektual.jpg)