Opini
Turats dan Wacana Intelektual
Saat ini, kitab kuning sudah tidak diproduksi lagi, kecuali kertas QPP atau Qur'an Paper yang dirancang khusus untuk al-Qur'an.
Dan sesekali diadakan bedah buku dan diskusi terbuka dengan menggunakan bahasa Arab atau Inggris.
Jadi, proses pembelajaran para santri ketika di Pondok Pesantren memang dipaksa sejak dini untuk memahami perbedaan pendapat para ulama, filsuf, para intelektual.
Sehingga ketika kembali ke masyarakat, tidak serta merta mudah menyalahkan dan menyesatkan pendapat orang lain yang tidak sesuai dengan pendapatnya.
Karena itu, saya sangat apresiasi lomba Qira'atil Qutub Internasional untuk pertama kalinya, semoga acara ini memberikan motivasi kepada para santri untuk berkarya, dan kelak menebar manfaat sebanyak-banyaknya, Tuhan alam semesta merestui niat baik kita.
Saya optimis, pondok pesantren akan terus malakukan regenerasi ulama yang siap menopang pembangunan.
Dan yakinlah, jika sebuah negara ingin kokoh, maka yang perkuat adalah institusi ulama yang berbasis pesantren. Wallahu A'lam!(*)
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulawesi Selatan |
|
|---|
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Turats-dan-Wacana-Intelektual.jpg)