Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Turats dan Wacana Intelektual

Saat ini, kitab kuning sudah tidak diproduksi lagi, kecuali kertas QPP atau Qur'an Paper yang dirancang khusus untuk al-Qur'an.

Editor: Sakinah Sudin
Grafis Tribun Timur/ Muhlis
OPINI - Potret Dr Ilham Kadir MA, Alumni Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju; Dosen UNIMEN. Ilham Kadir salah satu penulis Opini Tribun Timur. 

Sedangkan rukunnya, minimal: shalat berjamaah di masjid, belajar kitab kuning, santri yang mandiri hingga mulazamah dan talaqqi pada kiai. 

Adapun ruangan belajar, bisa dimana saja, sebab selama saya belajar di pondok, saya pindah-pindah dari depan kamar kiai, turun ke kolong rumah, pindah ke masjid, lalu ke teras rumah orang kampung, bahkan hingga di bawah pohon.

Apalah arti sebuah tempat, yang berarti adalah materi ajar, otoritas guru, dan santri penuh semangat.

Begitu semangatnya, hingga kadang tidur sambil berjalan menuju kamar mandi.

Karena setiap pesantren punya ciri khas, maka saya hanya menulis terkait turats dan bagaimana wacana intelektual berkembang di pesantren kami.

Program pendidikan di Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju memiliki ciri khas, yakni setiap santri wajib menghafal al-Quran, dan harus khatam minimal tiga kali selama enam tahun, atau duakali dalam jangka empat tahun.

Program tahfizh ini diadopsi dari Mejelisul Qurra' wal Huffazh yang didirikan oleh Syekh Afifi al-Mishri dan Anregurutta Muhammad As'ad Al-Bugisi di Madrasah Arabiah Islamiyah (MAI), Sengkang. 

Sebab memang guru kami, KH. Lanre Said adalah alumni MAI Sengkang.

Di samping itu, wajib mengikuti program Kulliatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) yang diadopsi dari Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo.

Artinya, pondok kami merupakan perpaduan dari dua lembaga pendidikan pencetak ulama dan pemimpin terbaik di Indonesia, MAI Sengkang, dan Darussalam Gontor.

Memadukan dua program utama: tahfizh dan KMI bukan perkara mudah.

Sebab santri dituntut untuk menghafal al-Quran sekaligus dipaksa menguasai pelajaran KMI yang jumlahnya mencai 20 mata pelajaran dalam satu semister.

Dan setiap satuan materi ajar terhubung kait dengan materi lainnya, atau interkoneksi dengan dua belas ilmu yang wajib dipelajari.

Sejak awal masuk belajar, para santri sudah diharuskan menghafal kosa kata, baik benda, kata kerja, kata sifat, hingga kata penghubung dalam bahasa Arab.

Biasanya diberi waktu selama enam bulan untuk meninggalkan bahasa daerah dan menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved