Wawancara Khusus
Kisah Prof Adlin Sila Bimbing Mischka Aoki Menembus Jurnal Scopus Dunia
Dalam program Ngobrol Virtual Tribun Timur dengan tema “Profesor Makassar di Balik Suksesnya Mischka Aoki”.
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Fakta bahwa seorang siswa SMA sudah bisa menembus jurnal internasional tentu menjadi nilai tambah yang luar biasa.
Ini juga bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk mulai mengasah kemampuan bahasa Inggris, khususnya dalam penulisan akademik, sejak dini.
Bagaimana cara menyeimbangkan antara teori dan data dalam penelitian?
Berdasarkan pengalaman saya sebagai editor, reviewer, dan penulis di jurnal terindeks Scopus, saya melihat bahwa di banyak kampus di Indonesia masih ada kecenderungan terlalu menekankan teori.
Padahal, untuk menembus jurnal internasional, justru kedalaman data menjadi hal yang sangat diutamakan.
Artikel berbasis riset lapangan memiliki nilai lebih dibanding sekadar kuat di teori.
Dalam penelitian kami, kekuatan itu terletak pada data hasil wawancara dengan perempuan-perempuan yang sudah berada pada posisi mapan di dunia politik.
Karena itu, penting bagi mahasiswa, khususnya di jenjang S2 dan S3, untuk tidak hanya fokus pada teori.
Teori tetap penting sebagai perspektif, tetapi yang menjadi penentu adalah kedalaman data serta kemampuan menganalisisnya secara tepat.
Penguasaan metode dan teknik penelitian di lapangan menjadi kunci agar tulisan dapat bersaing dan diterbitkan di jurnal internasional.
Sampaikan apa yang Anda miliki, bangun personal branding, dan tunjukkan siapa diri Anda.
Saat ini, media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok memberikan peluang besar bagi pelajar untuk mempromosikan kemampuan dan potensi mereka, sesuatu yang dulu tidak kami miliki.
Saya melihat Mischka Aoki sebagai contoh yang menarik.
Selain berprestasi di bidang sains, ia juga aktif membagikan proses belajarnya, persiapan menghadapi kompetisi, hingga pencapaiannya di media sosial.
Ia tidak hanya berkembang untuk dirinya sendiri, tetapi juga menginspirasi dan memotivasi orang lain.
Inilah yang membuatnya bisa disebut sebagai influencer—mampu mempengaruhi orang lain dengan cara yang positif.
Ia menunjukkan bahwa pencapaian tidak datang secara instan, melainkan melalui proses dan persiapan yang matang.
Karena itu, penting bagi pelajar, baik di Makassar maupun di seluruh Indonesia, untuk tidak ragu berbagi hal-hal positif.
Ini bukan soal pamer, tetapi tentang menyebarkan inspirasi dan energi baik kepada sesama.
Bagaimana membedakan antara berbagi inspirasi dan sikap riya?
Dalam Islam, berbagi pencapaian bukanlah riya, melainkan tahadduts bin ni’mah, yaitu menceritakan nikmat yang diberikan Tuhan sebagai bentuk rasa syukur, bukan untuk kesombongan, tetapi sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah SWT.
Ada juga pesan Nabi: “Khoirunnas anfauhum linnas,” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Mischka Aoki menjadi contoh bagaimana kesuksesan tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan melalui tips dan pengalaman yang bisa menginspirasi orang lain.
Terima kasih kepada Tribun dan rekan-rekan media yang telah memberitakan pencapaian ini.
Semoga menjadi amal jariyah dan memberi manfaat bagi pelajar di seluruh Indonesia.
Peluang itu selalu ada. Saya sendiri pernah mengalaminya.
Dulu, setelah lulus SMA, saya mendapatkan beasiswa S1 dari Australia.
Saat itu kami bersaing dengan lulusan SMA dari seluruh Indonesia, khususnya Indonesia Timur.
Informasi beasiswa itu saya dapatkan bahkan sebelum era internet, hanya dari brosur yang dibagikan oleh guru saya di sekolah.
Mungkin karena beliau melihat potensi saya di bahasa Inggris, akhirnya saya terdorong untuk mencoba.
Saya tahu persaingannya tidak mudah, tetapi saya tetap percaya diri dan mengambil kesempatan itu.
Hal pertama yang penting adalah membangun kepercayaan diri.
Pemberi beasiswa tidak hanya menilai kemampuan bahasa Inggris, tetapi juga melihat potensi dari sisi kepercayaan diri.
Pengalaman saya, saat mengikuti seleksi, latar belakang sekolah tidak lagi menjadi penentu utama.
Saya berasal dari Madrasah Aliyah, MAN 1 di Makassar, dan bersaing dengan lulusan SMA unggulan.
Awalnya sempat ragu, tetapi dalam proses wawancara, yang dinilai justru kesiapan dan keyakinan diri.
Selain itu, penting untuk mempersiapkan diri dengan baik, terutama dalam memenuhi persyaratan seperti kemampuan bahasa Inggris.
Dalam wawancara, pertanyaan yang diajukan tidak hanya soal akademik, tetapi juga menyangkut rencana ke depan—apa yang akan dilakukan jika terpilih, dan kontribusi apa yang akan diberikan kepada masyarakat setelah menyelesaikan studi.
Pada akhirnya, pemberi beasiswa ingin melihat komitmen bahwa penerima beasiswa memiliki niat untuk kembali dan memberikan dampak positif bagi masyarakatnya.(*)