Wawancara Khusus
Kisah Prof Adlin Sila Bimbing Mischka Aoki Menembus Jurnal Scopus Dunia
Dalam program Ngobrol Virtual Tribun Timur dengan tema “Profesor Makassar di Balik Suksesnya Mischka Aoki”.
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Penelitian kami mencoba melampaui itu.
Kami melihat bahwa saat ini semakin banyak politisi perempuan yang memegang peran penting, baik di partai politik, kementerian, maupun dalam kabinet pemerintahan.
Pada periode kedua pemerintahan Joko Widodo, misalnya, sejumlah posisi strategis diisi oleh perempuan, seperti Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan, serta beberapa menteri dan tokoh politik perempuan lainnya.
Karena itu, fokus penelitian kami adalah mengidentifikasi kendala-kendala yang mereka hadapi, sekaligus memahami bagaimana mereka mengatasi hambatan budaya tersebut hingga mampu mencapai posisi strategis seperti sekarang.
Apa kendala utama dalam penelitian yang Anda lakukan?
Kendala utama dalam penelitian ini adalah masih minimnya referensi atau kajian mendalam terkait isu tersebut.
Karena itu, kami lebih banyak mengandalkan wawancara sebagai data primer dalam penyusunan artikel.
Selain itu, aspek bahasa juga menjadi faktor penting. Dalam hal ini, Mischka Aoki memiliki keunggulan.
Sejak kecil ia pernah tinggal di Australia, kemudian bersekolah di lingkungan internasional yang bilingual, serta aktif mengikuti kompetisi tingkat internasional.
Kemampuan bahasa Inggrisnya sangat baik, bahkan saya cukup terkejut saat pertama kali membaca proposalnya.
Kualitas bahasanya sudah setara, bahkan mungkin melampaui kemampuan saya saat menempuh S2.
Ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi mereka yang ingin berkiprah di level global.
Negara-negara berbahasa Inggris, khususnya di kawasan Persemakmuran seperti Inggris dan Australia, umumnya mensyaratkan bukti kemampuan menulis dalam bahasa Inggris dengan standar akademik.
Keunggulan Mischka Aoki adalah, meskipun belum menjadi mahasiswa S1, ia sudah mampu menghasilkan karya ilmiah yang biasanya ditulis oleh mahasiswa tingkat lanjut.
Di Indonesia sendiri, publikasi di jurnal internasional umumnya dilakukan oleh mahasiswa S2 atau S3 sebagai syarat kelulusan.