Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Hari Kartini

Fahmi Rahmasari Sang Kartini Masa Kini, Lulusan UNM Rela Jadi Guru di Pelosok Luwu

Sebagai perempuan yang mengabdi di daerah terpencil, tantangan yang dihadapi Fahmi bukan sekadar jarak, melainkan juga kendala teknis.

Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Alfian
Istimewa/Fahmi Rahmasari
GURU HONORER - Foto Fahmi Rahmasari guru SMAN 19 Luwu, Desa Lissaga, Kecamatan Bastem, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, diterima Tribun-Timur.com, Selasa (21/4/2026). Selain mengajar di SMA, Fahmi juga mendidik siswa-siswi di jenjang SD. Fahmi rela mengajar di daerah pedalaman 3T demi mendidik siswa-siswinya. 

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Di tengah peringatan Hari Kartini, kisah tentang perjuangan perempuan tak lagi berhenti pada lembar sejarah Raden Ajeng Kartini.  

Di pelosok pegunungan Bastem, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, semangat emansipasi, pendidikan, dan kebebasan berpikir yang dipegang Kartini menjelma dalam sosok Fahmi Rahmasari

Ia seorang guru matematika di SMAN 19 Luwu yang berlokasi di Desa Lissaga, Bastem.

Jarak dari Ibukota Luwu, Kota Belopa, menuju sekolah tempat Fahmi mengajar berkisar 70 kilometer. 

Butuh waktu dua jam lebih berkendara menggunakan sepeda motor untuk bisa sampai di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) itu. 

Alumnus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Jurusan Matematika, Universitas Negeri Makassar itu mengabdikan diri di wilayah dengan akses jalan yang belum tersentuh aspal. 

Selama lima tahun mengabdi sebagai guru honorer, Fahmi sudah akrab dengan jalanan ekstrem khas pegunungan. 

Baca juga: Hari Kartini dan Tantangan Penegakan Hukum

Setiap pagi, selama 30 menit, sepeda motornya harus menerjang kontur jalanan berbatu di lereng Pegunungan Latimojong. 

Sebagai perempuan yang mengabdi di daerah terpencil, tantangan yang dihadapi Fahmi bukan sekadar jarak, melainkan juga kendala teknis yang menuntut kemandirian. 

Salah satunya adalah keterbatasan dalam bekendara menggunakan sepeda motor. 

"Ketika kendaraan bermasalah di tengah perjalanan, sering kali kita harus berusaha sendiri dengan kemampuan yang terbatas, atau menunggu bantuan yang tidak selalu cepat datang," ungkap Fahmi kepada Tribun-Timur.com, Selasa (21/4/2026) sekitar pukul 12.24 Wita siang. 

Medan di Bastem yang berbatu, berlumpur, bahkan sangat licin saat diguyur hujan, menjadi santapan sehari-hari. 

Fahmi tak menampik, keletihan sering kali menghinggapi dirinya akibat perjalanan jauh melintasi medan yang sulit. 

Baca juga: Cicu Gaungkan Kesetaraan Gender di Momen Hari Kartini 2025

Namun, rasa lelah itu seketika luruh saat ia melihat wajah-wajah muridnya. 

"Terkadang merasa lelah, tapi ketika melihat semangat anak-anak kecil untuk bersekolah menempuh perjalanan jauh, naik turun gunung, hingga melewati hutan, itu menjadi penguat hati. Kita merasa kehadiran kita sangat berarti bagi mereka," ungkapnya. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved