Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Wawancara Khusus

Kisah Prof Adlin Sila Bimbing Mischka Aoki Menembus Jurnal Scopus Dunia

Dalam program Ngobrol Virtual Tribun Timur dengan tema “Profesor Makassar di Balik Suksesnya Mischka Aoki”.

TRIBUN-TIMUR.COM - Prestasi membanggakan datang dari talenta muda Indonesia, Mischka Aoki.

Ia merupakan influencer sekaligus juara olimpiade sains ini dikabarkan diterima di dua universitas terbaik dunia, University of Oxford dan Stanford University.

Namun, siapa sangka ada peran besar seorang putra asli Makassar di balik kesuksesan akademik tersebut.

Ia Prof Muhammad Adlin Sila, akademisi asal Makassar yang menjadi dosen pembimbing Mischka dalam menyusun riset internasional.

Dalam program Ngobrol Virtual Tribun Timur dengan tema “Profesor Makassar di Balik Suksesnya Mischka Aoki”.

Siniar ini dipandu Host I Luh Devi Sania.

Prof Adlin mengaku membimbing Mischka untuk menembus jurnal internasional terindeks Scopus. 

Berikut petikan wawancaranya.

Bisa berbagi cerita singkat tentang latar belakang pendidikan dan karier Bapak?

Saya lahir di Ujung Pandang. Pendidikan saya dari SD sampai perguruan tinggi saya selesaikan di Makassar, tepatnya di IAIN yang sekarang menjadi UIN Alauddin Makassar.

Setelah itu, saya melanjutkan S2 antropologi di Australian National University (ANU).

Kemudian S3 di Universitas Indonesia, jurusan sosiologi, dan melanjutkan S3 kedua di ANU jurusan antropologi, yang selesai pada 2014.

Karier saya dimulai di Kementerian Agama di Kota Makassar, lalu pindah ke Kementerian Agama pusat di Jakarta, tepatnya di Litbang dan Diklat.

Profesi saya adalah peneliti, dan gelar yang saya sandang adalah profesor riset, bukan profesor di perguruan tinggi.

Selain itu, saya juga mengajar di Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia, meskipun secara akademik saya belum menyandang gelar profesor di kampus. Silakan panggil saya Pak Adlin saja.

Apa peran Pusat Prestasi Nasional dalam mendukung talenta muda berprestasi?

Di kementerian saat itu ada Pusat Prestasi Nasional yang menyediakan beasiswa bagi talenta muda berprestasi di bidang sains, seni budaya, dan olahraga.

Karena keterbatasan anggaran, prioritas diberikan kepada peraih medali, mulai dari emas hingga perunggu.

Selain prestasi, ada beberapa syarat utama, yaitu kemampuan bahasa Inggris dan Letter of Acceptance (LOA) dari kampus tujuan.

Tiga hal ini menjadi kunci bagi talenta muda untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Mischka Aoki termasuk yang memenuhi semua kriteria tersebut.

Namun, beasiswa yang ia peroleh bukan dari pemerintah, melainkan dari luar negeri, berkat prestasinya di berbagai Olimpiade Sains, sehingga memberinya keleluasaan memilih kampus yang diinginkan.

Seberapa besar pengaruh publikasi ilmiah terhadap peluang diterima di kampus top dunia?

Saya tidak membimbing sejak awal, tetapi lebih pada pendampingan penulisan artikel ilmiah agar bisa terbit di jurnal internasional terindeks Scopus.

Ini menjadi nilai tambah penting, terutama bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, seperti di Amerika, Eropa, maupun Australia, karena publikasi ilmiah sangat dihargai.

Saya mendampingi dan ikut menulis bersama Mischka Aoki hingga artikelnya berhasil terbit di jurnal internasional.

Hal ini turut memperkuat profil akademiknya, sehingga ia dapat diterima di berbagai perguruan tinggi top dunia seperti Stanford University dan University of Oxford.

Bagaimana politisi perempuan mengatasi hambatan budaya dan sosial?

Penelitian tentang topik ini masih relatif jarang.

Selama ini, kajian yang ada lebih banyak berfokus pada konsep teologi atau penafsiran agama yang mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap peran perempuan di ruang publik, khususnya di bidang politik.

Dalam perspektif gender, isu yang sering muncul adalah soal boleh tidaknya perempuan, terutama istri, berkiprah di ranah publik.

Penelitian kami mencoba melampaui itu.

Kami melihat bahwa saat ini semakin banyak politisi perempuan yang memegang peran penting, baik di partai politik, kementerian, maupun dalam kabinet pemerintahan.

Pada periode kedua pemerintahan Joko Widodo, misalnya, sejumlah posisi strategis diisi oleh perempuan, seperti Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan, serta beberapa menteri dan tokoh politik perempuan lainnya.

Karena itu, fokus penelitian kami adalah mengidentifikasi kendala-kendala yang mereka hadapi, sekaligus memahami bagaimana mereka mengatasi hambatan budaya tersebut hingga mampu mencapai posisi strategis seperti sekarang.

Apa kendala utama dalam penelitian yang Anda lakukan?

Kendala utama dalam penelitian ini adalah masih minimnya referensi atau kajian mendalam terkait isu tersebut.

Karena itu, kami lebih banyak mengandalkan wawancara sebagai data primer dalam penyusunan artikel.

Selain itu, aspek bahasa juga menjadi faktor penting. Dalam hal ini, Mischka Aoki memiliki keunggulan.

Sejak kecil ia pernah tinggal di Australia, kemudian bersekolah di lingkungan internasional yang bilingual, serta aktif mengikuti kompetisi tingkat internasional.

Kemampuan bahasa Inggrisnya sangat baik, bahkan saya cukup terkejut saat pertama kali membaca proposalnya.

Kualitas bahasanya sudah setara, bahkan mungkin melampaui kemampuan saya saat menempuh S2.

Ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi mereka yang ingin berkiprah di level global.

Negara-negara berbahasa Inggris, khususnya di kawasan Persemakmuran seperti Inggris dan Australia, umumnya mensyaratkan bukti kemampuan menulis dalam bahasa Inggris dengan standar akademik.

Keunggulan Mischka Aoki adalah, meskipun belum menjadi mahasiswa S1, ia sudah mampu menghasilkan karya ilmiah yang biasanya ditulis oleh mahasiswa tingkat lanjut.

Di Indonesia sendiri, publikasi di jurnal internasional umumnya dilakukan oleh mahasiswa S2 atau S3 sebagai syarat kelulusan.

Fakta bahwa seorang siswa SMA sudah bisa menembus jurnal internasional tentu menjadi nilai tambah yang luar biasa.

Ini juga bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk mulai mengasah kemampuan bahasa Inggris, khususnya dalam penulisan akademik, sejak dini.

Bagaimana cara menyeimbangkan antara teori dan data dalam penelitian?

Berdasarkan pengalaman saya sebagai editor, reviewer, dan penulis di jurnal terindeks Scopus, saya melihat bahwa di banyak kampus di Indonesia masih ada kecenderungan terlalu menekankan teori.

Padahal, untuk menembus jurnal internasional, justru kedalaman data menjadi hal yang sangat diutamakan.

Artikel berbasis riset lapangan memiliki nilai lebih dibanding sekadar kuat di teori.

Dalam penelitian kami, kekuatan itu terletak pada data hasil wawancara dengan perempuan-perempuan yang sudah berada pada posisi mapan di dunia politik.

Karena itu, penting bagi mahasiswa, khususnya di jenjang S2 dan S3, untuk tidak hanya fokus pada teori.

Teori tetap penting sebagai perspektif, tetapi yang menjadi penentu adalah kedalaman data serta kemampuan menganalisisnya secara tepat.

Penguasaan metode dan teknik penelitian di lapangan menjadi kunci agar tulisan dapat bersaing dan diterbitkan di jurnal internasional.

Sampaikan apa yang Anda miliki, bangun personal branding, dan tunjukkan siapa diri Anda.

Saat ini, media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok memberikan peluang besar bagi pelajar untuk mempromosikan kemampuan dan potensi mereka, sesuatu yang dulu tidak kami miliki.

Saya melihat Mischka Aoki sebagai contoh yang menarik.

Selain berprestasi di bidang sains, ia juga aktif membagikan proses belajarnya, persiapan menghadapi kompetisi, hingga pencapaiannya di media sosial.

Ia tidak hanya berkembang untuk dirinya sendiri, tetapi juga menginspirasi dan memotivasi orang lain.

Inilah yang membuatnya bisa disebut sebagai influencer—mampu mempengaruhi orang lain dengan cara yang positif.

Ia menunjukkan bahwa pencapaian tidak datang secara instan, melainkan melalui proses dan persiapan yang matang.

Karena itu, penting bagi pelajar, baik di Makassar maupun di seluruh Indonesia, untuk tidak ragu berbagi hal-hal positif.

Ini bukan soal pamer, tetapi tentang menyebarkan inspirasi dan energi baik kepada sesama.

Bagaimana membedakan antara berbagi inspirasi dan sikap riya?

Dalam Islam, berbagi pencapaian bukanlah riya, melainkan tahadduts bin ni’mah, yaitu menceritakan nikmat yang diberikan Tuhan sebagai bentuk rasa syukur, bukan untuk kesombongan, tetapi sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah SWT.

Ada juga pesan Nabi: “Khoirunnas anfauhum linnas,” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Mischka Aoki menjadi contoh bagaimana kesuksesan tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan melalui tips dan pengalaman yang bisa menginspirasi orang lain.

Terima kasih kepada Tribun dan rekan-rekan media yang telah memberitakan pencapaian ini. 

Semoga menjadi amal jariyah dan memberi manfaat bagi pelajar di seluruh Indonesia.

Peluang itu selalu ada. Saya sendiri pernah mengalaminya.

Dulu, setelah lulus SMA, saya mendapatkan beasiswa S1 dari Australia.

Saat itu kami bersaing dengan lulusan SMA dari seluruh Indonesia, khususnya Indonesia Timur.

Informasi beasiswa itu saya dapatkan bahkan sebelum era internet, hanya dari brosur yang dibagikan oleh guru saya di sekolah.

Mungkin karena beliau melihat potensi saya di bahasa Inggris, akhirnya saya terdorong untuk mencoba.

Saya tahu persaingannya tidak mudah, tetapi saya tetap percaya diri dan mengambil kesempatan itu.

Hal pertama yang penting adalah membangun kepercayaan diri.

Pemberi beasiswa tidak hanya menilai kemampuan bahasa Inggris, tetapi juga melihat potensi dari sisi kepercayaan diri.

Pengalaman saya, saat mengikuti seleksi, latar belakang sekolah tidak lagi menjadi penentu utama.

Saya berasal dari Madrasah Aliyah, MAN 1 di Makassar, dan bersaing dengan lulusan SMA unggulan.

Awalnya sempat ragu, tetapi dalam proses wawancara, yang dinilai justru kesiapan dan keyakinan diri.

Selain itu, penting untuk mempersiapkan diri dengan baik, terutama dalam memenuhi persyaratan seperti kemampuan bahasa Inggris.

Dalam wawancara, pertanyaan yang diajukan tidak hanya soal akademik, tetapi juga menyangkut rencana ke depan—apa yang akan dilakukan jika terpilih, dan kontribusi apa yang akan diberikan kepada masyarakat setelah menyelesaikan studi.

Pada akhirnya, pemberi beasiswa ingin melihat komitmen bahwa penerima beasiswa memiliki niat untuk kembali dan memberikan dampak positif bagi masyarakatnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved