Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson

Bisnis 'Suruh'

Kekeliruan terbesar ilmu ekonomi karena memutlakkan uang sebagai pondasi utama sebuah kesuksesan.

Editor: Sudirman
Ist
KLAKSON - Abdul Karim Ketua Dewas LAPAR Sulsel dan Majelis Demokrasi, Humaniora 

Otaknya berputar nyaris 24 jam memikirkan jalan keluar. 

Akhirnya, jalan keluar ia temukan pada April 2022 lalu. Susanto merintis bisnis jasa tak lazim.

Bisnisnya unik, sebab menerima jasa suruh. Siapa saja yang menyuruh dan disuruh apa saja sepanjang halal—ia layani. 

Ia menjalankan bisnis jasa yang sebenarnya umum dibutuhkan publik, namun tak lazim dikerjakan masyarakat.

Bisnis jasa “suruh” itu ia pajang lebar-lebar di media sosial, sehingga publik mudah menghubunginya. Makmun medsosnya diikuti ratusan ribu pengikut. 

Susanto menawarkan berbagai jenis layanan “disuruh”, mulai dari bersih-bersih rumah, berbelanja kebutuhan pelanggannya, mengantar-jemput barang atau orang, hingga hal-hal tak terduga seperti disuruh membangunkan tukang rujak di malam hari atau menemani ibu-ibu melahirkan. 

Ia juga kerap disuruh ke pasar berbelanja oleh pelanggannya, disuruh membersihkan kamar mandi, disuruh pasang antena TV, disuruh mandikan kucing peliharaan.

Disuruh membuang bangkai tikus, disuruh memotong kuku burung peliharaan pelanggan, atau disuruh angkat barang oleh pelanggan yang pindah rumah. 

Upahnya, mulai dari Rp. 5.000 hingga ratusan ribu rupiah tergantung jenis suruhan pelanggannya.

Susanto membangun bisnisnya dengan moral yang baik, penuh kejujuran.

Bila ia disuruh ke pasar berbelanja, ia tak memark-up harga tomat dan lainnya. Ia hanya menerima upah jasanya disuruh ke pasar. 

Mental Susanto bukanlah mental hamba sahaya. Jiwanya tidaklah jiwa budak. Ia disuruh-suruh dalam konteks bisnis. Sesungguhnya seluruh bisnis jasa pada intinya adalah soal “suruh-menyuruh”.

Bisnis  jasa pengiriman barang-barang—termasuk belanja on line kita—sebenarnya tentang “suruh-menyuruh”.

Begitupun dengan bisnis jasa ojek on line bertopik “suruh-menyuruh” pula. Maka tepatlah jargon bisnis Susanto; “Kalau mau punya duit, yaa harus mau disuruh". Jargon itu nyata manjur. 

Ketika kota-kota besar bising dengan kata “kemiskinan”, “korupsi”, “efesiensi”, “tambang”,—Susanto sibuk kesana-kemari disuruh. Susanto sadar, bahwa negeri ini tak pernah cemas dengan perikehidupan  warganya dilapis bawah.

Janji pemimpinnya persis bisikan patah. Maka ia muncul dengan keuletannya dan kejujuruannya tanpa promosi Himpunan Pengusah Muda Indonosia (HIPMI).

Sebab warga negara seperti Susanto, dibela atau tak dibela, pantang kalah, ogah menyerah, selalu bergairah. Dan ia membuktikan itu, hidupnya survive karena tak menyerah disuruh—tanpa anggaran negara.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved