Klakson
Bisnis 'Suruh'
Kekeliruan terbesar ilmu ekonomi karena memutlakkan uang sebagai pondasi utama sebuah kesuksesan.
klakson
Bisnis “Suruh”
Oleh; Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel, Majelis Demokrasi & Humaniora
TRIBUN-TIMUR.COM - Kesuksesan ekonomi tak selamanya dibibit dengan uang. Kesuksesan itu bisa dirintis cukup dengan kemauan, keuletan, kejujuran tanpa uang.
Kekeliruan terbesar ilmu ekonomi karena memutlakkan uang sebagai pondasi utama sebuah kesuksesan.
Uang disebut modal wajib untuk sukses. Ilmu ekonomi lupa pepatah lama; “banyak jalan menuju Roma”.
Maka carilah jalan itu, stocknya banyak—walau sebesar jalan semut.
Jalan semut menuju sukses itu ditemukan Susanto (30), seorang pria asal Bekasi, Jawa Barat.
Ia adalah CEO “Santo Suruh”—sebuah bisnis jasa layanan suruh apa saja.
Susanto barangkali salah satu dari jutaan warga negara yang tak pernah dipedulikan negara.
Ia dibentuk dengan kerja dan ketidakpastian. Ia diolah ditengah derasnya keserakahan.
Untungnya ia ulet, pantang kalah walau lelah.
Sebelum memulai bisnis “suruh” nya, Susanto bekerja sebagai tukang antar air galon isi ulang disebuah kompleks perumahan dengan upah Rp.500 per galon.
Upah secuil itu membuat hidupnya genting dan merintih. Ia tak kuasa memenuhi kebutuhan istri, empat anaknya, dan juga merawat sang ibu yang menderita gangguan jiwa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-1.jpg)