Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Remitansi: Urat Nadi Ekonomi Keluarga dan Pembangunan Bangsa

Dana ini bukan hanya angka-angka di neraca bank; ia adalah urat nadi ekonomi bagi sekitar 800 juta anggota keluarga.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Risma Niswaty Guru Besar Layanan Publik UNM 

Indonesia dan Kisah Pahlawan Devisa di Perantauan

Sebagai negara dengan populasi besar, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam mengirimkan warganya untuk bekerja di luar negeri.

Mulai dari pekerja rumah tangga di Hong Kong dan Singapura, pekerja pabrik di Malaysia dan Taiwan, hingga buruh konstruksi dan minyak di Timur Tengah, Pekerja Migran Indonesia (PMI), atau yang dulu dikenal sebagai TKI, adalah ujung tombak penyumbang remitansi.

Jumlah remitansi yang masuk ke Indonesia mencapai puluhan miliar dolar setiap tahun, menjadikannya salah satu pilar penting bagi stabilitas makroekonomi negara.

Keberadaan PMI telah terbukti secara signifikan mengangkat taraf hidup keluarga di daerah asal.

Desa-desa yang dulunya terpencil kini terlihat lebih maju dengan rumah-rumah yang layak, fasilitas umum yang lebih baik, dan anak-anak yang bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.

Ini adalah bukti nyata dampak positif dari pengorbanan para PMI. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengidentifikasi dan mengakui peran penting ini dengan berbagai kebijakan perlindungan dan pemberdayaan, meskipun tantangan di lapangan masih banyak.

Namun, pengiriman pekerja migran juga memunculkan dilema kompleks. Di satu sisi, ini adalah solusi ekonomi bagi banyak keluarga yang kekurangan lapangan kerja di dalam negeri.

Di sisi lain, isu-isu terkait perlindungan hukum, keselamatan, dan kesejahteraan PMI di negara penempatan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Eksploitasi, perdagangan manusia, dan kekerasan adalah risiko nyata yang dihadapi.

Oleh karena itu, Hari Internasional Pengiriman Uang Keluarga juga harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat komitmennya dalam melindungi hak-hak pekerja migran, memastikan mereka mendapatkan perlakuan yang adil, dan memberikan dukungan yang memadai, baik saat mereka bekerja di luar negeri maupun ketika kembali ke tanah air.

Memberdayakan mereka dengan keterampilan, literasi keuangan, dan akses ke program reintegrasi adalah kunci untuk memastikan bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia, dan bahwa remitansi mereka benar-benar menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih cerah.

Pada akhirnya, dibalik kilaunya angka remitansi dan narasi "pahlawan devisa," terdapat realitas yang kerap kali pahit bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Meskipun pemerintah Indonesia secara retoris mengakui kontribusi vital mereka, kebijakan publik yang ada masih seringkali belum sepenuhnya berpihak pada PMI.

Regulasi yang tumpang tindih, birokrasi yang rumit, serta lemahnya penegakan hukum di lapangan, masih menjadi momok yang menghantui.

Kita sering mendengar cerita tentang PMI yang terjebak dalam sindikat perdagangan manusia, dieksploitasi oleh agen nakal, atau kesulitan mendapatkan keadilan saat hak-hak mereka dilanggar di negara penempatan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Inspirasi Kartini

 

Inspirasi Kartini

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved