Opini
Pembelajaran Demokrasi dari Kasus Yuran Fernandes
Dalam sepakbola sangat menjunjung tinggi sportifitas, prinsip fair play, sangat menghormati kebebasan berpendapat dan berekspresi.
Padahal, jika ada evaluasi terbuka terhadap kepemimpinan wasit, mungkin Yuran tidak perlu mengungkapkan kekecewaannya di media sosial.
Yuran dihukum karena mengatakan apa yang publik sepakbola pikirkan. Yuran tidak layak dimusuhi oleh PSSI.
Ia hanya pembawa pesan dari kegelisahan yang sudah terlalu lama dipendam pencinta sepakbola.
Jika PSSI ingin sepak bola Indonesia maju, mereka harus berhenti mematikan suara kritik dan mulai memperbaiki masalah itu sendiri.
Karena selama ketidakadilan masih ada, selama itu pula #KamiBersamaYuran.
Apa yang dilakukan Komdis PSSI dengan mengkriminalisasi protes pemain tanpa ada evaluasi terhadap kinerja wasit, berpotensi menciptakan ketimpangan.
Pemain dan klub selalu berada di posisi yang rentan dihukum, sementara kesalahan wasit sering dibiarkan tanpa konsekuensi jelas.
Tanpa keseimbangan ini, sepak bola Indonesia hanya akan menjadi arena di mana kebenaran dibungkam dan ketidakadilan dibiarkan tumbuh.
Komdis PSSI harus memilih, apakah ingin berposisi sebagai alat penegak disiplin yang otoriter atau garda terdepan demokrasi sepak bola yang sehat?(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Idris-Dosen-Ilmu-Komunikasi-FSIKP-UMI-dan-Pencinta-Sepakbola.jpg)