Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Budaya Tanding, Anak Muda dan Paparan Velocity

Ketika sedang membaca kita akan merasa tak ada intervensi dari luar selain diri kita sendiri yang fokus dan asik dalam pikiran dan perasaan kita.

Tayang:
Editor: Sudirman
Andi Yahyatullah Muzakkir
OPINI - Andi Yahyatullah Muzakkir Founder Anak Makassar Voice dan Mimbar Sastra Makassar 

Santer kita dengar yang baru-baru ini viral seperti trend Velocity di Tiktok dan lagu-lagu trending topik lainnya diikuti mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan lansia dari semua bidang kerjaan hingga pada akhirnya juga keterlibatan tokoh politik/tokoh publik.

Standar ini seakan menjadi arus utama agar tidak ketinggalan zaman lalu kemudian mengesampingkan arus pengembangan diri yang penting seperti membaca, berdiskusi dan tulis-menulis.

Dalam artian lain dari semua kalangan khususnya generasi muda lebih memilih mengakses platform media sosial, agar tak ketinggalan trend yang ada, ikut menghafal lirik hingga ikut berjoget-joget ketimbang membaca Hatta dan Tan Malaka.

Pertanyaan subtansi, apakah dalam perjalanan ini, paparan media sosial dan standar platform media sosial seperti mengikuti standar algoritma hingga FYP adalah kehidupan yang tepat untuk kita jalani sebagai generasi muda dalam hal pengembangan diri?

Sudah menjadi keniscayaan pada fenomena media sosial hari ini, sehingga kita mesti memiliki harapan-harapan baru akan perubahan dan pandangan-pandangan positif.

Bahwa di tengah kepesatan teknologi, konten yang sedang trend, dan sistem algoritma-FYP yang menjadi arus utama memapar semua kalangan khususnya generasi muda, budaya tanding adalah suatu alternatif dan keniscayaan.

Seperti kita ketahui, budaya tanding adalah sebuah gerakan sosial yang menentang nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku secara umum di tengah masyarakat.

Gerakan ini untuk merespon situasi sosial yang ada dan bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial dan budaya. 

Sebagai contoh, Andy Warhol, seniman pop art yang menjadi ikon budaya tanding tahun 1960an mengekspresikan kebebasan berekspresi dan ketak percayaan terhadap yang berkuasa.

Dapat diartikan konsep budaya tanding adalah sebuah antitesa dari arus umum yang memperdaya, dangkal, minim nilai dan tidak subtansi.

Ini dapat menjadi gerakan alternatif dari trend di platform media sosial hari ini yang sangat memabukkan, melumpuhkan nalar termasuk abai pada kedalaman ilmu pengetahuan.

Sebab, benar di sana kita menemukan jutaan kesenangan, ribuan kenikmatan tak henti-henti.

Kalau arus utama hari ini standarnya pada platform media sosial seperti mengikuti trend, konten-konten FYP lalu orang-orang ikut berbondong-bondong pada arus ini maka mesti ada arus lain yang tetap mengedepankan kedalaman ilmu, subtansi, nilai dan pengembangan diri.

Jalan membaca, berdiskusi, berolah nalar dan menulis teramat mudah untuk ditempuh bahkan bisa diakses secara gratis.

Sejarah para pendiri bangsa ini telah menjadi cermin perjalanan dan proses panjang menjadi seseorang yang berarti dan berdampak.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved