Opini Irfan Yahya
Ablasi Retina, Epistemologi Al-Alaq, dan Fitrah Manusia
Apa yang menjadi pengalaman empirik saya di ambang bulan Ramadahan 1446 H terkait masalah serius pada mata—ablasi retina
Fenomenanya saat ini malah sebagian manusia cenderung menghormati sesamanya yang berkedudukan tinggi, dan memiliki harta yang banyak.
Sikap ta’dzim adalah pengakuan bahwa Allah adalah yang Maha Agung, dan manusia, sebagai makhluk-Nya, harus senantiasa mengagungkan dan memuliakan-Nya.
Refleksi atas Fitrah dan Pengetahuan Ilahi
Kondisi ablasi retina yang saya alami dapat dijadikan sebagai refleksi nyata dari fitrah manusia.
Sebagaimana retina yang terlepas dari jaringan pendukungnya akan menyebabkan kebutaan inderawi, keterpisahan manusia dari fitrah—disposisi bawaan yang mengarahkan pada pengakuan terhadap Allah—juga menyebabkan kebutaan spiritual.
Dalam Islam, fitrah adalah sifat dasar yang membuat manusia menyadari keberadaan Allah dan ketergantungan mereka kepada-Nya.
Ketika manusia menjauh dari fitrah ini, mereka kehilangan panduan ilahi yang penting untuk memahami makna hidup dan keberadaan mereka.
Al-Qur'an secara konsisten dan tegas mengingatkan manusia untuk merenungkan tanda-tanda penciptaan (ayat kauniyah), yang merupakan bukti nyata dari eksistensi dan sifat-sifat Allah.
Mata, sebagai salah satu alat indera yang paling vital bagi manusia, menjadi salah satu tanda kebesaran Allah.
Kompleksitas dan kecanggihan desain mata mengungkapkan kebesaran Sang Pencipta, dan kenyataan bahwa mata, yang sangat penting untuk berinteraksi dengan dunia, bisa begitu mudah rusak, menjadi pengingat kuat akan kelemahan manusia dan perlunya bersikap tawadhu baik dihadapan sesamanya makhluk apatah lagi di hadapan Sang Pencipta makhluk.
Refleksi jiwa ini menjadi bukti nyata mengenai keterbatasan fisik manusia dan menjadi pengingat akan perlunya manusia untuk tunduk, berserah, dan mengagungkan Allah semata.
Di tengah dunia modern yang semakin mengandalkan pengetahuan empiris dan akal, manusia tetap harus menyadari pentingnya wahyu sebagai sumber basis pengetahuan yang lebih tinggi.
Pengetahuan yang diperoleh melalui indera, seperti penglihatan, meskipun penting, tidaklah cukup untuk memahami kebenaran hakiki tentang eksistensi alam semesta dan seluruh isinya.
Hanya melalui integrasi antara akal, indera, dan wahyu, manusia dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan holistik tentang dunia serta hubungan mereka dengan Allah.
Sebagaimana retina yang terlepas memerlukan intervensi medis untuk menghindari kebutaan, jiwa manusia yang terpisah dari fitrah dan wahyu juga memerlukan bimbingan ilahi untuk terbebas dari kebutaan spiritual.
Dengan berserah diri kepada Allah dan memanfaatkan semua sumber pengetahuan yang diberikan-Nya—baik melalui wahyu, akal maupun indera—manusia dapat mencapai kesempurnaan dalam menjalani kehidupan ini, dengan tujuan akhir mendekatkan diri kepada-Nya. Wallahualam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Irfan-yahya222023.jpg)