Opini Irfan Yahya
Menjejak Tapak Langkah Hidayatullah Membangun Negeri Berkeadaban
Ketika JK mengatakan bahwa Hidayatullah berada “antara Muhammadiyah dan NU,” sesungguhnya JK ingin menegaskan posisi khas gerakan Hidayatullah
Oleh: Irfan Yahya
Sosiolog/Aktivis Hidayatullah/Akademisi dan Peneliti pada Puslit Opini Publik LPPM Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Ada yang menarik dalam penutupan Musyawarah Nasional VI Hidayatullah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta 23 Oktober 2025.
Dalam sambutannya, Wakil Presiden Ke-10 dan 12 Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla, menyampaikan apresiasi mendalam atas peran besar Hidayatullah dalam membina umat, memperkuat pendidikan Islam, dan menyalakan semangat dakwah hingga ke pelosok negeri. JK menegaskan bahwa kemajuan umat tidak lahir dari kuantitas semata, tetapi dari kualitas keimanan, keilmuan, dan keikhlasan dalam berjuang di medan dakwah.
Pada kesempatan itu, JK juga mengenang perjalanan unik Hidayatullah. “Saya menjadi saksi bagaimana Hidayatullah membangun negeri ini 50 tahun berjuang dari pedalaman dan pelosok Nusantara, bukan dari kota dengan fasilitas serba wah” ujarnya.
Dengan berkelakar Jusuf Kalla menambahkan kalimat yang mencuri perhatian dan gelak tawa para musyawirin, “Makanya sering orang yang tanya ke saya, bagaiana itu Hidayatullah? Saya hanya bilang sederhana, Hidayatullah itu antara NU dan Muhammadiyah. Cara berjuangnya mendekati keduanya, tapi berbeda karena Hidayatullah selalu mulai berjuang dari daerah-daerah terpencil, bukan dari kota, walaupun berjuang di kota juga sungguh luar biasa”.
Pernyataan JK itu menegaskan posisi khas Hidayatullah dalam laskap gerakan Omras Islam di Indonesia, gerakan yang tumbuh dari akar, membangun peradaban dari bawah, dan menautkan rasionalitas modern dengan spiritualitas Nubuwwah. Dari Gunung Tembak lahir bukan sekadar pesantren, melainkan model peradaban Islam yang hidup dari kesadaran wahyu. Hidayatullah membangun sistem sosial berbasis iman, ilmu, dan amal, menanamkan paradigma berpikir yang menyatukan ketiganya dalam praksis dakwah dan pendidikan.
Menjejak tapak langkah Hidayatullah berarti menelusuri jejak sejarah bagaimana sebuah manhaj menjadi ruh gerakan, dan bagaimana gerakan itu menjelma menjadi peradaban.
Ustadz Abdullah Said Rahimahullah, pendiri Hidayatullah, tidak hanya mendirikan lembaga, tetapi menanamkan warisan orisinil yang membentuk watak gerakan ini: Sistematika Wahyu, Kepemimpinan Imamah–Jama’ah, dan Harokah Islamiyah. Ketiganya menjadi fondasi lahirnya kampus pesantren sebagai miniatur peradaban Islam, sebuah praksis sosial dari keimanan yang hidup dan menghidupkan.
Kepemimpinan Ustadz Abdullah Said Rahimahullah menandai fase kharismatik dalam sejarah sosial Hidayatullah. Ia adalah masa ketika kesadaran iman dan dakwah menempuh jalannya yang paling autentik, berawal dari kesunyian hutan jati di Gunung Tembak dan tumbuh dari kesederhanaan.
Dalam pandangan beliau, dakwah bukan sekedar proyek, melainkan pilihan sadar jalan hidup. Beliau memandang wahyu bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai sistem pendidikan Ilahiyatyang menuntun manusia membangun kesadaran secara bertahap: dari tilawah menuju tazkiyah, dan hikmah, dari ilmu menuju amal, dari personal menuju jama’ah. Dari keyakinan inilah lahirijtihad manhaj Sistematika Wahyu yang menjadi fondasi epistemologis Hidayatullah.
Ustadz Abdullah Said Rahimahullah menegaskan bahwa wahyu tidak boleh berhenti di kepala saja, melainkan harus hidup nyata senyatanya dalam tindakan. Maka lahirlah gagasan kampus pesantren sebagai miniatur peradaban Islam.
Kampus, baginya, adalah laboratorium sosial Nubuwwah tempat iman, ilmu, dan amal berpadu menjadi gaya hidup. Di sanalah tumbuh generasi pertama Hidayatullah, para kader yang siap dikirim ke berbagai pelosok negeri tanpa nanti tanpa tapi, hanya dengan bekal keyakinan dan idealisme.
Kepemimpinan Abdullah Said Rahimahullah bersifat total, menembus batas formal organisasi. Beliau memimpin bukan dengan jabatan, melainkan dengan keteladanan; bukan dengan struktur, melainkan dengan wibawa ruhani. Model kepemimpinan inilah yang disebutnya sebagai Imamah–Jama’ah, kepemimpinan yang menegakkan disiplin spiritual, ketaatan moral, dan kesalehan sosial di bawah satu komando.
Namun di balik kekuatan sistem komando itu, Ustadz Abdullah Said Rahimahullah juga menanamkan kesadaran bahwa setiap gerakan harus siap menghadapi perubahan zaman. Beliau menyiapkan kader yang tercerahkan bukan untuk bergantung pada figur, tetapi untuk melanjutkan cita-cita. Maka ketika beliau wafat pada 1998, ruh gerakan ini tidak padam. Justru sebaliknya, ia menemukan bentuk kedewasaannya dalam cahaya manhaj.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Irfan-yahya222023.jpg)