Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Irfan Yahya

Ablasi Retina, Epistemologi Al-Alaq, dan Fitrah Manusia 

Apa yang menjadi pengalaman empirik saya di ambang bulan Ramadahan 1446 H terkait masalah serius pada mata—ablasi retina

Editor: Sudirman
DOK PRIBADI
OPINI - Irfan Yahya Sosiolog Hidayatullah, Akademisi dan Peneliti Puslit Opini Publik LPPM Unhas 

Oleh: Irfan Yahya

Sosiolog Hidayatullah, Akademisi dan Peneliti Puslit Opini Publik LPPM Unhas

Kesehatan fisik merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia yang sering kali diabaikan, kemudian tersadar saat muncul masalah serius.

Apa yang menjadi pengalaman empirik saya di ambang bulan Ramadahan 1446 H terkait masalah serius pada mata—ablasi retina (lepasnya retina)— dan apa yang menjadi fokus kajian saya selama kuliah S2, S3 bidang Sosiologi berbasis sistematika wahyu (tartib nuzuli).

Serta pengalaman selama ini mengampuh mata kuliah Filsafat Ilmu dan Sosiologi Agama di Prodi Magister Sosiologi Unhas telah membuka ruang kontemplasi filosofis bagi saya.

Khususnya terkait diskursus epistemologi antara Barat yang berpusat pada pengetahuan empiris dan Islam yang berbasis wahyu, khususnya surah yang pertama kali diturunkan, yang saya istilahkan sebagai epistemologi Al-Alaq (ayat ke-1 sampai ayat ke-5). 

Bermula dari saran Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin yang juga seorang dokter spesialis mata yang didapuk menjadi Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI).

Pak Prof Budu, setelah beberapa kali konsultasi, beliau menyarankan saya untuk segera ke rumah sakit khusus mata untuk diagnosis lebih lanjut apa yang saya keluhkan. 

Setelah diperiksa oleh dokter spesialis mata khusus retina, juga dari hasil USG mata kiri saya ditemukan beberapa syaraf  retina yang terlepas.

Kondisi ini menjadi sinyal kuat dari Tuhan tentang betapa lemahnya tubuh ini dengan segala keterbatasan saya sebagai manusia.

Pada titik kesadaran ini pulalah saya mencoba merenungkan secara mendalam keterkaitan erat antara kesehatan fisik dan fitrah spiritual manusia, yang pada dasarnya adalah basis kesadaran akan ketergantungan dan ketundukan kepada Sang Pencipta.

Keterbatasan Indera Manusia

Kondisi medis serius semisal ablasi retina ini menginjeksi kesadaran kita betapa rentannya indera manusia tersebut dan cenderung dianggap remeh.

Dalam epistemologi Barat, filsuf seperti René Descartes dan David Hume mengantarkan pada kesadaran bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui rasionalisme atau empirisme.

Descartes dalam bukunya Meditations on First Philosophy mengutamakan penalaran akal sebagai jalan menuju pengetahuan yang pasti.

Sementara Hume dalam bukunya An Enquiry Concerning Human Understanding berpendapat bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi. 

Berbeda dengan Descartes dan Hume, Imanuel Kant dalam karyanya Critique of Pure Reason mengakui keterbatasan indera.

Menurut Kant, pengalaman indera hanya memberikan pemahaman terbatas tentang fenomena, sedangkan realitas yang lebih mendalam (noumena) berada di luar jangkauan indera manusia.

Oleh karena itu, pengetahuan manusia terbatas pada apa yang bisa dipahami melalui indera dan kognisi.

Dalam Epistemologi Al-Alaq yang selama ini saya geluti dan dalami memberikan perspektif yang mengintegrasikan akal, indera, dan wahyu.

Selaras dengan apa yang dijelaskan Al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din dan Al-Munqidh min al-Dalal, dan juga oleh Al-Attas dalam karyanya Prolegomena to the Metaphysics of Islam.

Bahwa wahyu berperan sebagai sumber pengetahuan yang lebih tinggi, melampaui batasan indera dan akal manusia, memberikan panduan untuk memahami realitas yang lebih komprehensif. 

Jadi Perintah untuk "membaca" (iqra') tidak hanya mengajak manusia untuk mencari pengetahuan empiris belaka.

Tetapi juga untuk merenungi tanda-tanda penciptaan dan memahami wahyu sebagai sumber kebenaran yang hakiki, yang tidak dapat dicapai sepenuhnya melalui panca indera atau akal semata.

Fitrah Manusia: Kesadaran Akan Keterbatasan dan Ketergantungan

Dalam khazanah Islam, manusia diciptakan dengan fitrah atau naluri dasar yang mengarahkan mereka kepada Allah sebelum dia terlahir ke dunia: “alastu birabbikum qalu bala syahidna”.

Fitrah ini mencerminkan kecenderungan alami manusia untuk mengenali kebesaran Allah dan kebutuhan mereka untuk bergantung kepada-Nya.

Ketika manusia mengalami keterbatasan fisik, seperti kehilangan penglihatan akibat ablasi retina misalnya, mereka diingatkan akan ketergantungan mutlak kepada Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Alaq, Allah menciptakan manusia dari segumpal darah dan mengajarkan mereka pengetahuan melalui pena.

Proses ini menunjukkan bahwa manusia, pada dasarnya, tidak memiliki pengetahuan atau kekuatan, melainkan semua itu datang dari Allah. Fitrah manusia menuntut mereka untuk tunduk kepada Allah.

Seekor hewan peliharaan saja tentu akan patuh dan tunduk kepada majikan yang memeliharanya, bagaimana dengan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. 

Fitrah manusia tidak hanya mengarahkan mereka kepada ketundukan (ta’abbud) kepada Allah, tetapi juga kepada sikap taslim (berserah diri) dan ta’dzim (mengagungkan).

Seperti yang dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah (QS. 2:21), manusia diperintahkan untuk menyembah Allah, Tuhan yang menciptakan mereka.

Sikap tunduk ini mencerminkan kesadaran akan keterbatasan manusia dan pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya penguasa dan pencipta.

Manusia, sebagai makhluk yang diciptakan, memiliki kecenderungan alami untuk menyerah dan tunduk kepada pencipta-Nya.

Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang dihadapkan pada sebuah kondisi yang di luar kemampuan yang mereka miliki.

Seperti apa yang saya alami saat ini, sebagai seorang pasien yang harus menghadapi operasi retina mata merasa tidak berdaya.

Hanya bisa berserah diri kepada dokter spesialis retina yang menagani saya sejak awal walaupun baru pertama kali saya kenal, saya percaya saja bahwa sang dokter memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang ini. 

Dan secara sadar pula saya menaati segala apa yang dokter perintahkan: pasca operasi, bagian kepala dan mata harus pada posisi seperti saat ruku’ dalam shalat selama delapan jam berturut turut.

Dan selama tiga pekan berikutnya posisi dan durasi yang sama harus dilakukan walaupun dengan cara melakukan berangsur-ansur hingga genap akumulasi delapan jam dalam sehari. 

Demikian juga bagian wajah tidak bisa terkena air pasca operasi, konsumsi obat dan lain sebagainya.

Hikmahnya selain belajar sabar disiplinkan diri taat menjalankan perintah dokter juga tersedia cukup banyak waktu yang bertepatan dengan bulan Ramadan untuk lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an, membaca dengan terjemahannya dan pada ayat-ayat tertentu menyempatkan membaca tafsirnya.

Kalaulah dengan sesama manusia saja kita bisa tergantung dan tunduk atas dasar percaya dan yakin dengan keahliannya, apatah lagi dengan Sang Pencipta manusia.

Sebagai makhluk cipataan, manusia harus berserah diri kepada Allah, senantiasa taat menjalankan segala perintah dan larangan dari Zat yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Selain tunduk dan berserah, fitrah manusia juga menuntut mereka untuk ta’dzim (mengagungkan) Allah.

Fenomenanya saat ini malah sebagian manusia cenderung menghormati sesamanya yang berkedudukan tinggi, dan memiliki harta yang banyak.

Sikap ta’dzim adalah pengakuan bahwa Allah adalah yang Maha Agung, dan manusia, sebagai makhluk-Nya, harus senantiasa mengagungkan dan memuliakan-Nya.

Refleksi atas Fitrah dan Pengetahuan Ilahi

Kondisi ablasi retina yang saya alami dapat dijadikan sebagai refleksi nyata dari fitrah manusia.

Sebagaimana retina yang terlepas dari jaringan pendukungnya akan menyebabkan kebutaan inderawi, keterpisahan manusia dari fitrah—disposisi bawaan yang mengarahkan pada pengakuan terhadap Allah—juga menyebabkan kebutaan spiritual.

Dalam Islam, fitrah adalah sifat dasar yang membuat manusia menyadari keberadaan Allah dan ketergantungan mereka kepada-Nya.

Ketika manusia menjauh dari fitrah ini, mereka kehilangan panduan ilahi yang penting untuk memahami makna hidup dan keberadaan mereka.

Al-Qur'an secara konsisten dan tegas mengingatkan manusia untuk merenungkan tanda-tanda penciptaan (ayat kauniyah), yang merupakan bukti nyata dari eksistensi dan sifat-sifat Allah.

Mata, sebagai salah satu alat indera yang paling vital bagi manusia, menjadi salah satu tanda kebesaran Allah.

Kompleksitas dan kecanggihan desain mata mengungkapkan kebesaran Sang Pencipta, dan kenyataan bahwa mata, yang sangat penting untuk berinteraksi dengan dunia, bisa begitu mudah rusak, menjadi pengingat kuat akan kelemahan manusia dan perlunya bersikap tawadhu baik dihadapan sesamanya makhluk apatah lagi di hadapan Sang Pencipta makhluk. 

Refleksi jiwa ini menjadi bukti nyata mengenai keterbatasan fisik manusia dan menjadi pengingat akan perlunya manusia untuk tunduk, berserah, dan mengagungkan Allah semata.

Di tengah dunia modern yang semakin mengandalkan pengetahuan empiris dan akal, manusia tetap harus menyadari pentingnya wahyu sebagai sumber basis pengetahuan yang lebih tinggi.

Pengetahuan yang diperoleh melalui indera, seperti penglihatan, meskipun penting, tidaklah cukup untuk memahami kebenaran hakiki tentang eksistensi alam semesta dan seluruh isinya.

Hanya melalui integrasi antara akal, indera, dan wahyu, manusia dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan holistik tentang dunia serta hubungan mereka dengan Allah.

Sebagaimana retina yang terlepas memerlukan intervensi medis untuk menghindari kebutaan, jiwa manusia yang terpisah dari fitrah dan wahyu juga memerlukan bimbingan ilahi untuk terbebas dari kebutaan spiritual.

Dengan berserah diri kepada Allah dan memanfaatkan semua sumber pengetahuan yang diberikan-Nya—baik melalui wahyu, akal maupun indera—manusia dapat mencapai kesempurnaan dalam menjalani kehidupan ini, dengan tujuan akhir mendekatkan diri kepada-Nya. Wallahualam.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Inspirasi Kartini

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved