Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Irfan Yahya

Ablasi Retina, Epistemologi Al-Alaq, dan Fitrah Manusia 

Apa yang menjadi pengalaman empirik saya di ambang bulan Ramadahan 1446 H terkait masalah serius pada mata—ablasi retina

Editor: Sudirman
DOK PRIBADI
OPINI - Irfan Yahya Sosiolog Hidayatullah, Akademisi dan Peneliti Puslit Opini Publik LPPM Unhas 

Seekor hewan peliharaan saja tentu akan patuh dan tunduk kepada majikan yang memeliharanya, bagaimana dengan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. 

Fitrah manusia tidak hanya mengarahkan mereka kepada ketundukan (ta’abbud) kepada Allah, tetapi juga kepada sikap taslim (berserah diri) dan ta’dzim (mengagungkan).

Seperti yang dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah (QS. 2:21), manusia diperintahkan untuk menyembah Allah, Tuhan yang menciptakan mereka.

Sikap tunduk ini mencerminkan kesadaran akan keterbatasan manusia dan pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya penguasa dan pencipta.

Manusia, sebagai makhluk yang diciptakan, memiliki kecenderungan alami untuk menyerah dan tunduk kepada pencipta-Nya.

Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang dihadapkan pada sebuah kondisi yang di luar kemampuan yang mereka miliki.

Seperti apa yang saya alami saat ini, sebagai seorang pasien yang harus menghadapi operasi retina mata merasa tidak berdaya.

Hanya bisa berserah diri kepada dokter spesialis retina yang menagani saya sejak awal walaupun baru pertama kali saya kenal, saya percaya saja bahwa sang dokter memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang ini. 

Dan secara sadar pula saya menaati segala apa yang dokter perintahkan: pasca operasi, bagian kepala dan mata harus pada posisi seperti saat ruku’ dalam shalat selama delapan jam berturut turut.

Dan selama tiga pekan berikutnya posisi dan durasi yang sama harus dilakukan walaupun dengan cara melakukan berangsur-ansur hingga genap akumulasi delapan jam dalam sehari. 

Demikian juga bagian wajah tidak bisa terkena air pasca operasi, konsumsi obat dan lain sebagainya.

Hikmahnya selain belajar sabar disiplinkan diri taat menjalankan perintah dokter juga tersedia cukup banyak waktu yang bertepatan dengan bulan Ramadan untuk lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an, membaca dengan terjemahannya dan pada ayat-ayat tertentu menyempatkan membaca tafsirnya.

Kalaulah dengan sesama manusia saja kita bisa tergantung dan tunduk atas dasar percaya dan yakin dengan keahliannya, apatah lagi dengan Sang Pencipta manusia.

Sebagai makhluk cipataan, manusia harus berserah diri kepada Allah, senantiasa taat menjalankan segala perintah dan larangan dari Zat yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Selain tunduk dan berserah, fitrah manusia juga menuntut mereka untuk ta’dzim (mengagungkan) Allah.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved