Opini Rukman AR Said
Ramadan Day 5: Seribu Ungkapan Satu Perbuatan
Rasul saw kalau marah tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar, akan tetapi biasanya beliau hanya memalingkan wajah
Oleh: Rukman AR Said
Dosen IAIN Palopo
TRIBUN-TIMUR.COM - Pepatah Bugis mengatakan “Sisebbu ada seddi pangkaukeng, pangkaukengmi mappannessa.” (Seribu kata satu perbuatan, yang jadi tolok ukur adalah perbuatan).
Ungkapan “Seribu kata satu perbuatan” mengindikasikan bahwa tindakan lebih berbicara ketimbang kata-kata. Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali terjebak dalam lautan kata-kata tanpa memikirkan dampaknya.
Namun, pada akhirnya, yang menjadi tolok ukur adalah perbuatan. Ungkapan ini menantang kita untuk merenungkan sejauh mana kita telah mewujudkan apa yang telah diucapkan dalam tindakan nyata.
Dalam Islam, konsep ini memiliki dasar yang kuat. Allah Swt berfirman dalam al-Qur'an “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3)
Ayat ini dengan jelas menekankan pentingnya konsistensi antara ucapan dan tindakan. Allah Swt mengecam mereka yang hanya pandai berbicara tanpa melaksanakan apa yang mereka ucapkan. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Allah, perbuatan jauh lebih penting dan berarti ketimbang sekadar kata-kata.
Rasulullah saw juga mencontohkan betapa pentingnya perbuatan dalam ajaran Islam. Beliau tidak hanya mengajarkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Sebagai contoh, ketika seorang laki-laki datang kepada beliau dan meminta nasihat, Rasulullah saw memberikan nasihat singkat namun penuh makna “Jangan marah,” dan beliau mengulangi itu berberapa kali (HR. al-Bukhari)
Namun, nasihat ini bukan sekadar kata-kata. Rasul sendiri menunjukkan bagaimana mengendalikan amarah dalam berbagai situasi, menjadikan dirinya teladan nyata bagi umatnya.
Dalam riwayat dikatakan bahwa Rasul saw kalau marah tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar, akan tetapi biasanya beliau hanya memalingkan wajah, dan puncak kemarahan Nabi dapat terlihat apabila wajahnya telah memerah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa belajar banyak dari teladan Nabi Muhammad saw.
Salah satunya adalah pentingnya berbuat baik dan menunjukkan kasih sayang kepada sesama. Misalnya, beliau sangat peduli terhadap anak yatim dan selalu membantu mereka. Beliau tidak hanya mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada anak yatim melalui kata-kata, tetapi juga perbuatan nyata.
Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, at-Thabrani, dan ad-Daruquthni)
Hadis ini mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak hanya diukur dari kata-kata atau penampilannya, tetapi dari sejauh mana dia memberikan manfaat bagi orang lain. Dalam konteks ini, perbuatan nyata adalah bukti paling konkret dari kebaikan hati seseorang.
Kita bisa mulai dari hal-hal kecil dalam hidup. Membantu tetangga yang membutuhkan, menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang kurang beruntung, atau bahkan memberikan senyuman kepada orang yang kita temui.
| Ramadan Day 10: Belajar dari Mr Bean |
|
|---|
| Ramadhan Day: Mengukur Sepatu Orang dengan Kaki Kita |
|
|---|
| Ramadan Day 4: Tutur Kata yang Baik Adalah Parfum Paling Wangi |
|
|---|
| Ramadan Day 3: Keikhlasan dalam Berinfak, Sebuah Kisah Uang Celengan |
|
|---|
| Ramadhan Day 2: Atasi Stres dengan ‘ Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah’ |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/RUKMAN-AR-SAID_2025.jpg)