Opini Rukman AR Said
Ramadan Day 3: Keikhlasan dalam Berinfak, Sebuah Kisah Uang Celengan
Betapa sering manusia memberi dengan perhitungan, bukan dengan ketulusan. Kita cenderung mengalokasikan yang lebih kecil untuk sedekah
Oleh: Rukman AR Said
Dosen IAIN Palopo
TRIBUN-TIMUR.COM - Suatu malam di bulan Ramadan, seorang pria bersiap untuk berangkat salat Tarawih. Sebelum meninggalkan rumah, ia menyelipkan dua lembar uang di sakunya: satu lembar dua ribuan untuk dimasukkan ke dalam celengan masjid dan satu lembar dua puluh ribuan untuk membeli rokok selepas salat. Namun, dalam kelalaiannya, ia salah memasukkan uang. Ketika memeriksa sakunya seusai Salat Tarawih, ia terkejut mendapati bahwa uang yang tersisa justru yang bernilai kecil. Spontan, ia mengucapkan "Astagfirullah!" sebagai ekspresi penyesalan.
Kisah ini, meskipun sederhana, mengandung hikmah mendalam tentang keikhlasan dalam berinfak. Betapa sering manusia memberi dengan perhitungan, bukan dengan ketulusan. Dalam banyak kesempatan, kita cenderung mengalokasikan yang lebih kecil untuk sedekah dan yang lebih besar untuk kepentingan pribadi. Ketika terjadi kekeliruan seperti ini, apakah kita menyesal karena telah memberi lebih banyak untuk kebaikan, atau karena kehilangan yang kita niatkan untuk keperluan duniawi?
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali 'Imran: 92)
Ayat ini mengajarkan bahwa keikhlasan dalam berinfak adalah ketika seseorang memberikan sesuatu yang dicintainya, bukan sekadar sisa atau yang tidak berarti baginya. Keikhlasan sejati tercermin dalam ketulusan hati untuk berbagi tanpa beban dan tanpa penyesalan.
Kisah di atas juga menggambarkan betapa seringnya kita memisahkan antara harta untuk akhirat dan harta untuk kesenangan duniawi. Seandainya niat awal pria tersebut adalah untuk memberikan yang terbaik kepada Allah, tentu ia tidak akan kaget atau menyesal ketika mendapati uang yang lebih besar telah masuk ke dalam celengan masjid. Inilah ujian keikhlasan: apakah kita memberi karena berharap ridha Allah, ataukah karena kebiasaan dan sekadar rutinitas?
Lebih jauh lagi, kejadian ini bisa menjadi pengingat bahwa rezeki yang kita miliki sejatinya adalah titipan. Apa yang kita berikan di jalan Allah tidak akan berkurang, bahkan akan diganti dengan yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda:
"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim)
Maka, mari kita renungkan kembali bagaimana kita bersedekah dan berinfak. Apakah kita memberi dengan hati yang ikhlas, ataukah masih terbebani oleh hitung-hitungan duniawi? Jangan sampai kita menyesal setelah memberi hanya karena yang diberikan lebih dari yang kita rencanakan. Sebab, boleh jadi, di mata Allah, itulah amal terbaik kita yang membawa keberkahan di dunia dan di akhirat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/RUKMAN-AR-SAID_2025.jpg)