Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kabur Aja Dulu

Tren warganet yang mengajak sesama anak bangsa menetap di luar negeri tersebut juga akibat dari situasi politik.

Editor: Sudirman
dok pribadi
OPINI - lham Kadir Dosen Unimen, Sekum MUI Enrekang 

Oleh: Ilham Kadir 

Dosen Unimen; Sekum MUI Enrekang

TRIBUN-TIMUR.COM - Tagar ‘Kabur Aja Dulu’ akhir-akhir ini menggema di media social.

Penyebabnya ditengarai oleh kekecewaan para anak-anak muda, khususnya Generasi Z yang kecewa atas berbagai kebijakan pemerintah.  

Tren warganet yang mengajak sesama anak bangsa menetap di luar negeri tersebut juga akibat dari situasi politik hingga ekonomi di Indonesia yang tak menentu.

Salah satunya pemangkasan anggaran besar-besaran di berbagai sektor vital, namun di lain pihak jumlah menteri, wakil menteri, staf khusus, pembantu presiden, yang memakan biaya banyak terus-menerus ditambah.

Hastag #KaburAjaDulu merupakan ajakan pada generasi muda untuk meninggalkan Indonesia dan bepergian ke luar negeri baik untuk tujuan bekerja mencari nafkah, menetap di luar negeri, atau belajar sambil bekerja dan sejenisnya.

Berbagai reaksi muncul, ada yang memandang negatif, namun lebih banyak yang positif. Tulisan ini bermaksud mendukung tagar tersebut dengan pendekatan epistemology berbasis islamic worldview.

Kabur Aja Dulu merupakan makna lain dari rihlah, atau safara alias bepergian atau meninggalkan rumah, kampung halaman bahkan negeri dengan tujuan untuk hidup yang lebih berkualitas, baik itu untuk mencari ilmu maupun untuk mencari nafkah.

Namun, tulisan ini lebih fokus pada dorongan untuk keluar negeri untuk mencari ilmu maupun pengalaman dan jika telah tiba masanya kembali ke kampung halaman untuk berdakwah mengamalkan ilmunya, sebagaimana kisah-kisah teladan pada pendahulu ummat ini (salafus shalih).

Rihlah merupakan proses perpindahan dari satu tempat ke tempat lain untuk sebuah perjalanan (safara), secara etimologi, bentuk plural dari rihlah adalah rahhāl dan rahhālah, seperti kata rahāl yaitu yang banyak melakukan rihlah, rahāl juga berarti safar.

Begitu banyak petunjuk dari Rasulullah yang mendorong umatnya untuk melakukan rihlah, misalnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, berkata, Rasulullah bersabda, “Bersafarlah, niscaya kalian akan menjadi sehat!”.

Petunjuk lain, Nabi bersabda, “Bepergianlah, maka kalian akan mendapatkan ghanimah! Berpuasalah, maka kalian akan menjadi sehat! Bersafarlah, maka kaian akan merasa kaya! (H.R. Imam Ahmad, Al-Musnad.  No. 8954).

Dengan kerangka berfikir demikian, sehingga para salafus shalih menyukai rihlah, sebagian mereka melakukan rihlah sebagai hobi dan kebiasaan.

Sebagian lainnya karena tujuan mencari karunia ilahi berupa rezeki dengan berdagang, (Muhammad Abdurrahman dalam, Muhammad bin Abdullah bin Bathuthah, Rihlah Ibn Bathūthah fī Gharā’ib al-Amshār wa ‘Ajā’ib al-Asfār: 2009). 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved